suara banua news – MARABAHAN, Dalam upaya pemulihan pasca-banjir yang terjadi di Kabupaten Batola, pemerintah daerah bersama pihak swasta dan akademisi serta pihak lainnya melakukan kolaborasi pentahelix.

SALAH satunya melakukan koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan III ( BWSK III) dan sebagai langkah awal pemerintah daerah menyiapkan anggaran dari Belanja Tak Terduga (BTT) sebesar Rp. 800 juta untuk merehabilitasi saluran Ray 7 sebagai tindakan darurat.


Selain itu dari hasil pertemuan antara Bupati Bahrul Ilmi dan perwakilan warga Jejangkit dan perusahaan perkebunan sawit, ada sejumlah saluran yang menghubungkan Jejangkit ke aliran Sungai Barito, yang menjadi prioritas direhabilitasi.

Langkah lainnya adalah meminta Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan untuk melakukan normalisasi Sungai Bamban Sungai, Rumbia dan Sungai Rasau.

Sementara pihak perusahaan akan diarahkan untuk melakukan normalisasi pada Ray 21 yang terhubung dengan Ray 3.

Anggaran untuk kegiatan tersebut diambil dari bidang sumber daya air sebesar Rp 3,3 miliar untuk penanganan saluran guna mengatasi dampak banjir di Jejangkit.

Untuk penanganan jangka panjang, pemerintah daerah akan bekerjasama dengan pihak akademisi untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menganalisis serta mencari solusi yang tepat dan berkelanjutan.

Kerjasama ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengembangkan strategi penanganan banjir yang lebih efektif dan efisien.

Bupati Batola Bahrul Ilmi menyampaikan, untuk penanganan banjir tersebut, pemerintah akan fokus pada rehabilitasi saluran-saluran yang menjadi kewenangan kabupaten.

” Kedepannya, tentu menjadi prioritas utama kami untuk mencegah banjir terjadi lagi. Selanjutnya baru penanganan dampaknya seperti perbaikan jalan,” kata bupati.

Kolaborasi pentahelix ini tidak hanya membantu dalam penanganan bencana banjir di Kecamatan Jejangkit tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kerja sama dalam menghadapi bencana, tambahnya.

Dengan semangat gotong-royong dan sinergi antar-pemangku kepentingan, diharapkan Kecamatan Jejangkit dapat pulih lebih cepat dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan normal dengan lebih sejahtera.

“Saya berharap masyarakat dapat memahami bahwa upaya kolaboratif ini diharapkan dapat mempercepat perbaikan yang diperlukan demi kesejahteraan masyarakat Jejangkit,” jelas bupati Bahrul Ilmi.

Selain penanganan banjir, pemerintah daerah Batola, juga melakukan peningkatan kualitas jalan. Hal tersebut untuk mendorong pengembangan wisata religi. Khususnya untuk mendukung haul Guru Sekumpul.

Peningkatan kualitas jalan nantinya, merupakan kelanjutan kegiatan proyek tahun anggaran 2023, yang meliputi peningkatan ruas jalan berkala jalan Sei Bamban – Jejangkit sepanjang 5 km dengan alokasi anggaran Rp 6,5 miliar.

Pada tahun anggaran 2024 dilakukan peningkatan jalan ruas Jejangkit Muara – Jejangkit Timur sepanjang 1,2 km dengan alokasi anggaran Rp 2 miliar.

Kemudian, untuk tahun anggaran 2025, Dinas PUPR telah mengusulkan lanjutan peningkatan jalan Jejangkit Muara – Jejangkit Timur sepanjang 2 km dengan memanfaatkan hasil efisiensi anggaran.

Sementara untuk kegiatan proyek rehabilitasi saluran air, ada sejumlah kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya seperti rehabilitasi saluran Patih Selera, DIR. Sungai Pantai, DIR. Cahaya Baru, Sampurna, Jejangkit Pasar (Saluran Patih Selera- Saluran Sungai Pantai dan Ray 21 Tebing Rimbah -Ray 3 Jejangkit dengan panjang 10 hingga 19 km lebih.

Sedangkan kegiatan yang dilakukan BWSK III dan Dinas PUPR Kalsel yang sudah dilakukan adalah
normalisasi Saluran DIR. Sungai Bamban Tembus Ray 5, saluran Jejangkit Ray 5 dengan panjang 3.7 km.

Kemudian rehabilitasi saluran DIR Sampurna, rehabilitasi saluran DIR Cahaya Baru, dan rehabilitasi saluran DIR Tebing Rimbah serta pembuatan Tanggul Sungai Alalak.

Untuk pihak swasta, adalah tehabilitasi saluran Sungai Sawahan ke Sungai Sakaramai, normalisasi saluran DIR. Handil Bakti.

Kegiatan rehabilitasi saluran di tahun 2025, pemerintah Kabupaten Batola akan menargetkan rehabilitasi saluran DIR. Tebing Rimbah, DIR. Cahaya Baru, DIR. Sampurna, Jejangkit Muara (Ray 7 Tabing Rimbah-Ray 1 Jejangkit Muara), BTT 2025, Panjang ± 11.5 km.

Kemudian rehabilitasi saluran DIR Sei Pantai Panjang ± 5,4 km, realokasi anggaran rehabilitasi saluran dengan total 3.3 m.

Untuk normalisaasi saluran pemerintah akan melakukan kajian teknis drainase/saluran penanggulangan banjir, APBD-P Tahun 2025.

Mengusulkan ke provinsi untuk melakukan normalisasi saluran DIR. Sei Bamban (Lanjutan Sei Bamban) dan DIR. Jejangkit II (Sungai Rumbia, Sungai Habaya, Sungai Rasau) (DIR Kewenangan Provinsi) sepanjang ± 40 km.

Mengusulkan ke BWSK III untuk Normalisasi Primer Handil Bakti DIR. Handil Bakti sepanjang ± 15 km, dan lanjutan Penyelesaian Pembuatan Tanggul Sei Alalak.

Terakhir, rencana pemerintah bersama pihak swasta pada tahun 2025 ini adalah Kerjasama Normalisasi Saluran Ray 21 – Ray 3 Jejangkit, Panjang 12 km, Membuat Kesepakatan Kerjasama Normalisasi Saluran Sungai Rumbia, Panjang ± 15,5 km, Membuat Kesepakatan Kerjasama Normalisasi Saluran Sungai Habaya, Panjang ± 14,5 km.***
ahim sbn