suara banua news-NATIONAL, Malam Satu Suro, bukan sekadar pergantian tahun baru Jawa, melainkan momen sakral yang sarat makna spiritual dan budaya.

TAHUN ini, bertepatan dengan Kamis malam, 26 Juni 2025, yang juga malam Jumat Kliwon, waktu di mana dunia gaib dan manusia diyakini saling berinteraksi.


Keheningan malam ini diiringi berbagai tradisi turun-temurun, seperti tapa bisu, jamasan pusaka, dan sejumlah pantangan yang diyakini mampu melindungi dari hal-hal buruk.

Tradisi tapa bisu, misalnya, mencerminkan upaya untuk mencapai ketenangan batin dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara jamasan pusaka, ritual pembersihan benda-benda pusaka, melambangkan penyucian diri dan penghormatan terhadap leluhur.

Namun, di balik keindahan spiritualnya, Malam Satu Suro juga diiringi sejumlah larangan.

Keyakinan akan sensitivitas energi gaib pada malam ini, khususnya bagi mereka yang lahir dengan weton tulang wangi, mengarah pada sejumlah pantangan yang diyakini mampu menghindari pengaruh buruk.

Sepuluh larangan yang masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat Jawa antara lain:

1. Tidak menggelar hajatan atau pesta: Menghindari kegaduhan dan menjaga kesucian malam.

2. Tidak keluar rumah sembarangan: Menghindari potensi energi negatif yang berkeliaran.

3. Tidak melakukan perjalanan jauh: Menjaga keselamatan dan fokus pada introspeksi diri.

4. Tidak mandi di sungai atau laut: Menghormati kekuatan alam dan menghindari potensi bahaya.

5. Tidak menggunakan pakaian merah: Warna merah dianggap terlalu mencolok dan dapat menarik energi negatif.

6. Tidak mengucapkan kata-kata kotor: Menjaga kesucian lisan dan pikiran.

7. Tidak bertengkar atau marah-marah: Menjaga ketenangan batin dan keharmonisan.

8. Tidak membunuh hewan sembarangan: Menghormati kehidupan dan keseimbangan alam.

9. Tidak tidur terlalu malam tanpa tujuan: Menjaga energi dan fokus pada kegiatan spiritual.

10. Tidak menyalakan musik keras atau berisik: Menjaga kesucian dan ketenangan malam.

Larangan-larangan ini berakar pada filosofi Kejawen, yang menekankan pentingnya ketenangan batin, keseimbangan hidup, dan penghormatan terhadap alam semesta.

Malam Satu Suro, bagi sebagian besar masyarakat Jawa, bukan waktu untuk perayaan meriah, melainkan momen untuk introspeksi, menyepi, dan mendekatkan diri secara spiritual.

Ini adalah kesempatan untuk merenungkan perjalanan hidup dan mempersiapkan diri menghadapi tahun yang baru.***
sbn