sbn- HISTORY, Bagi masyarakat suku Banjar, khususnya yang berdiam di wilayah Kelua, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, nama Datu Ja’far Kalua bukan sekadar nama dalam sejarah, melainkan bagian dari identitas budaya dan religi yang terus dijaga hingga kini.

SEBAGAI salah satu tokoh datu atau leluhur yang dikeramatkan, beliau senantiasa disebut berdampingan dengan nama-nama besar lainnya seperti Datu Abi, Datu Kartamina, dan Datu Amputa, terutama dalam momen-momen sakral seperti upacara malabuh tradisi pemberian sesaji ke sungai sebagai wujud penghormatan kepada leluhur dan permohonan keselamatan.


Berakar dari sejarah, dakwah, dan tradisi

Asal-usul Datu Ja’far Kalua yang kerap juga ditulis sebagai Datu Jafar Kelua – terjalin erat dengan tiga hal utama: tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, perjalanan penyebaran agama Islam, serta pandangan kosmologi masyarakat Banjar.

Secara historis, sosok yang dimaksud tak lain adalah Datu Ja’far bin Daud, seorang ulama sekaligus pejuang yang namanya tercatat dalam catatan lokal dan kisah rakyat.

Datu Ja’far dikenal sebagai sosok yang mencurahkan masa mudanya untuk menuntut ilmu agama.

Beliau berguru kepada para ulama besar di wilayah Hulu Sungai, antara lain Tuan Guru Ahmad di Sungai Banar, untuk memperdalam ilmu syariat dan tarekat.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau kembali ke daerah asalnya di perbatasan Kelua dan Banua Lawas, lalu mendirikan majelis ilmu untuk menyebarkan dakwah Islam serta memperkuat keimanan masyarakat di pedalaman.

Namun, perjuangan Datu Ja’far tidak berhenti di bidang agama. Ketika Perang Banjar berkobar di bawah pimpinan Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari, wilayah Tabalong, termasuk Kelua dan Banua Lawas, menjadi salah satu medan pertempuran yang sangat sengit.

Saat itu, Belanda berusaha menguasai jalur-jalur penting untuk memutus pasokan logistik para pejuang.

Menanggapi hal itu, Datu Ja’far bergerak mengorganisir pemuda, petani, dan santri untuk membentuk milisi perlawanan rakyat.

Memanfaatkan medan rawa dan hutan lebat yang sulit ditembus pasukan kolonial, beliau memimpin perlawanan dengan taktik gerilya serang dan lari.

Dalam kisah rakyat, perjuangannya senantiasa diiringi cerita tentang karomah atau kemuliaan gaib yang diberikan Allah, sebagai buah dari ketakwaannya.

Dikisahkan, beliau memiliki keteguhan fisik dan mental yang luar biasa, bahkan senjata tajam maupun peluru musuh tak mempan kepadanya.

Firasatnya yang tajam juga kerap menyelamatkan pasukannya dari kepungan dan jebakan Belanda.

Posisi penting dalam kehidupan adat dan spiritual

Di luar catatan sejarah perjuangan, nama Datu Ja’far Kalua memiliki tempat istimewa dalam tradisi budaya kuno Banjar. Beliau dianggap sebagai salah satu Datu Asal figur leluhur yang dipercaya menguasai dan menjaga wilayah secara spiritual.

Bersama para datu lainnya, namanya selalu disebut secara berurutan dalam setiap upacara adat, sebagai pengingat akan jasa-jasa mereka yang telah membuka wilayah, menyebarkan agama, dan membela tanah Banjar.

Wilayah Kelua sendiri memang memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di Kalimantan Selatan.

Daerah ini menjadi tempat tinggal dan berkarya bagi banyak ulama besar, termasuk Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, penulis kitab terkenal Durrun Nafis.

Di tengah lingkungan seperti inilah, kisah dan pengabdian Datu Ja’far tumbuh subur, lalu masuk dalam jajaran “Datu-Datu Banjar” gelar kehormatan bagi mereka yang memiliki ilmu tinggi, karomah, atau berjasa besar bagi masyarakat.

Warisan yang terjaga hingga kini

Datu Ja’far bin Daud berjuang hingga akhir hayatnya, dan kini makam beliau berada di Desa Sungai Hanyar, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong.

Tempat peristirahatannya itu senantiasa dirawat dengan baik dan menjadi tujuan ziarah banyak orang.

Bagi masyarakat setempat, berziarah ke makamnya bukan hanya wujud rasa terima kasih atas jasa perjuangan dan kesalehannya, tapi juga bentuk upaya menjaga nilai-nilai luhur yang beliau perjuangkan: keimanan, persatuan, dan cinta tanah air.

Hingga hari ini, nama Datu Ja’far Kalua tetap hidup dalam ingatan dan kehidupan masyarakat Banjar.

Beliau bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan cerminan dari semangat leluhur yang terus menginspirasi generasi penerus.***
dari berbagai sumber
foto : Bangunan masjid tempo doeloe yang ada di Tabalong -Kandangan, menandakan masyarakatnya yang agamis.