sbn- MADINAH, Nama Ustaz Syafiq uz‑Zaman Khan kini tercatat abadi sebagai salah satu seniman paling berjasa di Masjid Nabawi SAW.
NAMUN, perjalanan menuju gelar “Kaligrafer Agung Al‑Haram” bermula dari kehidupan yang sangat sederhana di Pakistan.
Lahir di Rawalpindi dan besar di Karachi, ia mengawali bakatnya dengan melukis papan nama toko di pinggir jalan, tanpa menyangka bahwa itu adalah langkah awal menuju panggilan suci.
Sejak kecil, ia gemar menulis huruf Arab yang indah, mulai dari dinding rumah, buku pelajaran, hingga sampul buku saudara‑saudaranya.
Tahun 1979, nasibnya berubah saat seorang pengusaha Arab Saudi yang berkunjung ke Karachi terpesona karya‑karyanya dan mengajak bekerja di Riyadh.
Di sana dia berkarier di dunia periklanan, namun impian sesungguhnya tetap tertuju pada Madinah.
Titik balik besar terjadi pada tahun 1991. Pengurus Masjid Nabawi menggelar kompetisi internasional terbuka untuk memulihkan prasasti Al‑Qur’an peninggalan era Utsmaniyah, sebagian berusia lebih dari 130 tahun, serta membuat karya baru guna mendukung perluasan masjid yang terus berkembang.
Awalnya panitia sempat menolak pendaftarannya karena ia bukan kaligrafer profesional dan bukan penutur asli bahasa Arab.
Namun, dengan kepercayaan diri dan bukti karya, dia berhasil meyakinkan penyelenggara.
Bersaing melawan puluhan maestro dari Mesir, Suriah, Yordania, Irak, dan negara‑negara Arab lainnya, Ustaz Syafiq akhirnya keluar sebagai pemenang mutlak.
Sejak saat itu, selama lebih dari 30 tahun dia mendedikasikan seluruh keahlian dan hidupnya di bawah naungan Masjid Nabawi.
Gaya tulisan Arab Tsuluts‑nya yang anggun kini menghiasi 177 kubah, dinding, serta pintu‑pintu utama masjid.
Setiap kubah membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk selesai, mulai dari desain hingga pelaksanaan.
Yang paling istimewa, tiga karya andalannya terpasang langsung di kawasan Ar‑Raudhah Asy‑Syarifah, dibuat teliti selama enam bulan dan disempurnakan menggunakan lapisan emas murni 24 karat, berjarak dekat dengan tempat peristirahatan Nabi Muhammad SAW.
![]()
“Bagi saya, menulis kaligrafi di sini membawa kedamaian yang tidak saya temukan di tempat lain,” jelasnya dalam salah satu wawancara.
Kini, di usia 68 tahun, seniman yang juga menerima penghargaan prestisius Sitara‑i‑Imtiaz dari pemerintah Pakistan itu masih setia mengukir keindahan, menjadikan setiap goresan kuasnya bukti nyata pengabdian seni demi iman.***


















