sbn-MARTAPURA, Terletak tak jauh dari pusat Kota Martapura dan berbatasan langsung dengan Kelurahan Sungai Ulin, Kota Banjarbaru, Desa Labuan Tabu kini tampil sebagai salah satu desa yang terus berkembang pesat di Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
Namun di balik kemajuannya, desa yang berdiri di atas wilayah seluas 358 hektar ini menyimpan sejarah yang menarik.
Dari Pelabuhan Tabu Menjadi Desa Mandiri
Awalnya, Labuan Tabu merupakan bagian dari Desa Bincau. Seiring bertambahnya penduduk dan pembangunan yang terus tumbuh, para tokoh masyarakat berinisiatif membentuk desa tersendiri.
Pada tahun 1979, desa ini resmi berdiri dengan nama Desa Pelabuhan Tabu — diambil dari sejarahnya yang dulunya merupakan tempat orang menambatkan perahu yang memuat hasil bumi berupa tabu (Tebu) atau manisan buah dan hasil perkebunan rakyat.
Pada tahun 1983, namanya diubah menjadi Labuan Tabu.
Secara wilayah, desa ini terbagi menjadi 2 RW dan 3 RT, dengan batas-batas: sebelah utara berbatasan dengan Desa Pingaran (Astambul), selatan dengan Kelurahan Sungai Ulin (Banjarbaru), barat dengan Desa Bincau (Banjarbaru), dan timur dengan Desa Jingah Habang (Karang Intan).
Sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah yang menjadi lahan persawahan dan perkebunan.
Kepemimpinan dan Penduduk
Saat ini, Desa Labuan Tabu dipimpin oleh Sahriannor, yang dilantik pada 2 Juli 2021 menggantikan Syamsiar (2013–2021).
Beliau adalah pimpinan kelima sejak desa ini berdiri, setelah sebelumnya dipimpin oleh Selamat Husin (1979–2002), Masri Ahmad (2002–2007), dan Muhammad Saupi, S.AP. (2007–2013).
Jumlah penduduk Labuan Tabu saat ini tercatat 1.564 jiwa (850 laki-laki, 714 perempuan) dalam 372 Kepala Keluarga, yang tersebar di RT 01 (625 jiwa), RT 02 (525 jiwa), dan RT 03 (414 jiwa).
Potensi yang Menjanjikan
Labuan Tabu memiliki keunggulan yang khas. Lahannya yang subur membuat desa ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil singkong terbesar di Martapura.
Namun yang paling istimewa, desa ini sejak lama terkenal dengan budidaya bunga melati, bahkan pemerintah daerah terus menjaga agar lahan kebun melati ini tidak beralih fungsi.
Selain itu, warga juga mengembangkan perkebunan buah-buahan, peternakan, serta usaha dagang dan jasa.
Infrastruktur Semakin Membaik
Kabar baik datang dari pembangunan jalan. Pemerintah Kabupaten Banjar telah mengalokasikan anggaran Rp 5,2 miliar untuk merekonstruksi jalan penghubung Labuan Tabu, Lok Tangga, Sungai Besar.
Jalan yang lebih baik tentu akan memperlancar distribusi hasil tani dan membuka peluang ekonomi lebih luas bagi warga.
Pembangunan jalan lingkungan dan jembatan juga terus dilakukan demi kenyamanan masyarakat.
Menuju Destinasi Agrowisata
Kawasan yang meliputi Labuan Tabu, Bincau, dan Cindai Alus kini sedang disiapkan sebagai pusat agrowisata.
Labuan Tabu sendiri difokuskan sebagai sentra kebun melati yang bisa dikunjungi wisatawan, berdekatan dengan Agrowisata Pondok Lima di Cindai Alus dan kawasan wisata durian di Karang Intan.
Dengan potensi alam yang indah, akses yang semakin mudah, dan komoditas unggulan yang khas, Desa Labuan Tabu tampak siap melangkah lebih jauh, dari sekadar pelabuhan perahu tempo dulu, menjadi desa yang mandiri dan sejahtera di masa depan.***


















