sbn-MARABAHAN, Upaya menjaga agar Bahasa Bakumpai tetap hidup dan tak tergerus zaman terus dilakukan.

SALAH satu langkah nyata terwujud dengan diluncurkannya antologi puisi berjudul “Pajaliau Purun”, yang memuat karya dalam Bahasa Bakumpai beserta terjemahan Bahasa Indonesia, di Aula Selidah, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Selasa (22/9/2026).


Buku setebal 162 halaman ini berisi 62 puisi karya 50 penulis dari berbagai daerah, bahkan tak sedikit yang bukan berasal dari kalangan Dayak Bakumpai.

Disusun Komunitas Perahu Kata dengan dukungan penuh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Balai Bahasa Kalsel, antologi ini sengaja disajikan dua bahasa agar bisa dipahami dan dipelajari masyarakat luas.

“Tujuannya memperkenalkan Bahasa Bakumpai. Kami ingin buku ini mudah dipahami oleh siapa saja, bukan penutur asli sekalipun,” kata Syarif Hidayatullah, penggagas penerbitan.

Nama Pajaliau Purun pun sarat makna, purun adalah tumbuhan endemik yang bermanfaat, sedangkan pajaliau adalah bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat.

Isinya mengangkat tema kearifan lokal, legenda, lingkungan, hingga budaya. Buku ini juga tersedia secara digital dan akan disalurkan ke sekolah-sekolah.

Pemerintah Kabupaten Batola menyambut baik langkah ini. Kepala Disporabudpar Batola, Sirpan, menegaskan pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab keturunan, melainkan semua orang yang mencintainya.

Sementara itu, akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Nasrullah, berharap pengembangan budaya terus berjalan lebih luas dan mendokumentasikan lebih banyak Warisan Budaya Tak Benda di Batola.***
ahim sbn