sbn- TERAPU, Dulu, nama Desa Terapu di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, harum namanya. Pada era 1970 hingga 1980-an, desa ini dikenal luas sebagai salah satu lumbung padi lokal andalan di Kabupaten Banjar.
DARI total luas wilayah 696 hektar, sekitar 500 hektar merupakan hamparan persawahan yang subur dan produktif.
Setiap musim panen, petani tersenyum lebar, satu borongan lahan saja mampu menghasilkan 10 blik padi. Kini, kejayaan itu perlahan lenyap, tinggal cerita yang dibisikkan para tetua di pinggir sawah yang mulai beralih fungsi.
Kini, hanya sekitar 25 persen dari total lahan pertanian itu yang masih bisa diandalkan.
Sisanya, puluhan hektar, terlantar. Sawah yang dulunya hijau bergelombang kini berubah menjadi hamparan semak belukar, hutan sekunder, dan rimbunnya pohon rambai.
“Ada perasaan sedih yang tak terucap saat melihat tanah yang dulu memberi makan keluarga kini hanya ditumbuhi tanaman liar,” ucap Mastor, salah satu petani lama di Desa Terapu.
Dia mengenang, puluhan tahun silam dia membeli lahan di sini karena tahu tanahnya sangat subur.
Kini, di balik hamparan sawah miliknya, yang terlihat hanyalah pepohonan, bukti bahwa lahan itu telah lama ditinggalkan pemiliknya.
Masalah yang melanda Desa Terapu tidak datang sendiri, melainkan berdatangan satu demi satu.
![]()
Pertama, sistem drainase yang buruk membuat air sulit mengalir, menggenang tak terkendali.
Kemudian, intrusi air laut kian masif merembes masuk, merusak kesuburan tanah.
Air asin merendam padi yang sedang tumbuh, membuat tanaman layu, mati muda, atau menghasilkan bulir hampa — petani menyebutnya puso.
Belum lagi serangan hama tikus yang tak terkendali, menghabiskan tanaman dalam sekejap hingga gagal panen total.
Kerugian terus menumpuk. Modal bibit dan pupuk tak kembali. Satu per satu petani menyerah.
Banyak pemilik lahan akhirnya memilih merantau ke luar daerah demi mencari nafkah lain.
Sawah yang ditinggalkan pun berubah, semak tumbuh lebat, pohon rambai menjulang, dan tempat itu justru berubah menjadi sarang baru bagi tikus. Lingkaran setan yang sulit diputus.
![]()
Kepala Desa Terapu, Jailani, membenarkan kondisi memprihatinkan ini.
“Banyak lahan pertanian yang terbengkalai karena sistem drainase yang tidak memadai dan kesulitan akses”
” Pemerintah desa pun sudah berulang kali menyampaikan usulan ini dalam Musrenbang, namun hingga saat ini belum ada respons nyata,” ucapnya.
Tahun ini, fenomena intrusi air laut terasa jauh lebih parah dan datang lebih cepat dari perkiraan.
![]()
Kerugian petani kian membesar di tengah harapan akan program ketahanan pangan nasional yang sedang digalakkan pemerintah pusat.
Warga Desa Terapu tidak menyerah. Mereka mengangkat suara, berharap Pemerintah Kabupaten Banjar maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan segera turun tangan.
Normalisasi drainase, pembuatan pintu air yang layak, penanganan hama tikus secara massal, serta perbaikan jalan dan jembatan, itulah yang mereka minta.
Mereka bermimpi, suatu hari nanti, hamparan hijau padi kembali menyapa mata.
![]()
Para perantau pulang ke kampung halaman, mengolah tanah leluhur, dan Desa Terapu kembali berdiri tegak sebagai lumbung padi yang membanggakan.
Oleh karena itu, warga Desa Terapu sangat berharap adanya pemerataan pembangunan yang berkeadilan.
Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Banjar dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan segera memperbaiki pintu air, sistem drainase, serta membangun jalan dan jembatan permanen.
Langkah ini dianggap penting untuk memulihkan pertanian dan mengangkat kembali perekonomian warga.***

















