sbn-MARTAPURA, Tampilan fisik SDN Keraton 3 yang terletak di Komplek Batuah, Kelurahan Keraton, Kecamatan Martapura, memang terlihat kokoh dari luar.

NAMUN, kondisi di dalamnya justru memprihatinkan dan membahayakan keselamatan ratusan siswa serta tenaga pengajar.


Bangunan peninggalan era Presiden Soeharto ini kini mulai menunjukkan tanda-tanda kerapuhan serius.

Dinding kelas terlihat retak, sementara struktur plafon sudah sangat rapuh meski telah ditambal secara sederhana.

“Kayu-kayunya sudah ada yang jatuh, meskipun di luar bangunan. Tapi tetap saja itu berbahaya,” jelas Kepala Sekolah, Asiah, Rabu (8/4/2026).

Menurut Asiah, pihak sekolah terpaksa melakukan perbaikan seadanya menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Namun, langkah ini jelas bukan solusi permanen mengingat usia bangunan yang sudah tua.

Ironisnya, upaya untuk mendapatkan perbaikan menyeluruh melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar seolah menemui jalan buntu.

Pengajuan proposal yang sudah dilakukan sejak lama, bahkan hingga tahun 2024 lalu, tak kunjung mendapatkan tanggapan, meskipun pihak kelurahan juga turut mendukung pengusulannya.

“Sudah pernah diajukan, bahkan dari pihak kelurahan juga ikut membuat proposal. Tapi sampai sekarang tidak ada respon,” keluhnya.

Drainase Buruk dan Pohon Berbahaya?

Selain struktur bangunan, fasilitas penunjang juga memprihatinkan. Tidak adanya sistem drainase yang baik membuat halaman sekolah sering tergenang air setiap kali hujan turun.

Tidak hanya itu, keberadaan pohon besar di lingkungan sekolah juga menjadi ancaman tersendiri.

Akar pohon tersebut dikhawatirkan sudah merambah dan merusak struktur lantai bangunan.

Selain itu, potensi ranting patah saat angin kencang juga membahayakan warga sekolah.

“Jika angin kencang, kekhawatiran ranting berjatuhan berpotensi membahayakan orang disekitarnya,” ungkap sumber.

Persoalan ini pun sudah dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banjar.

Meskipun petugas pernah datang untuk membersihkan dahan, namun penanganan yang lebih serius hingga saat ini belum terealisasi meski sudah ada janji tindak lanjut.

Perlu diketahui, selain digunakan sebagai tempat belajar bagi 131 siswa, sekolah ini juga difungsikan sebagai tempat penginapan jemaah saat acara haul Guru Sekumpul, sehingga keramaian sering terjadi di lokasi tersebut.***
madi sbn