sbn-BANJARMASIN, Krisis air bersih di Kalimantan Selatan semakin memburuk. El Nino membawa dua ancaman sekaligus: menyusutnya debit sungai akibat kemarau panjang dan masuknya air laut ke perairan darat.

KONDISI ini memangkas produksi PT Air Minum Bandarmasih hingga 50 persen dari kapasitas normal, sehingga 150 ribu pelanggan kekurangan pasokan.


Intrusi air laut di Sungai Martapura mencapai 8.000 mg/liter, tak layak diolah, sehingga Intake Sungai Bilu yang berkapasitas 600 liter/detik harus berhenti beroperasi.

“Instrusi air laut membuat air sungai tak bisa diolah menjadi air bersih. Kami terpaksa menghentikan pengambilan air baku di lokasi tersebut,” jelas Murjani, Supervisor Humas PTAM Bandarmasih.

Saat ini, pasokan hanya mengandalkan Sungai Tabuk yang debitnya terus turun, sementara air dari Riam Kanan terbagi untuk kebutuhan air minum dan pemadaman kebakaran hutan.

Di Kabupaten Banjar, 55 desa di 15 kecamatan mengalami kekeringan. BPBD setempat telah mendistribusikan lebih dari 2,1 juta liter air bersih dan menyalurkan 130 unit tandon air sejak Juni lalu. Kondisi serupa terjadi di HSU, HSS, dan Kotabaru.

Guna mengatasi kelangkaan, penyaluran air bersih dilakukan secara bergilir menggunakan armada truk tangki hingga kondisi sumber air kembali normal.***