sbn-SUNGAI TABUK, Monumen dan Museum ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, yang dikenal dengan nama bersejarah “Alam Roh”, terletak di Desa Paku Alam, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.
TEMPAT ini dulunya merupakan markas pasukan ALRI Divisi IV di bawah pimpinan Brigjen H. Hasan Basry saat masa perjuangan kemerdekaan.
Kepala Desa Paku Alam, Syafie, berharap situs bersejarah ini dapat lebih dikenal wisatawan, terlebih banyak pengunjung Pasar Terapung Lok Baintan yang belum mengetahui keberadaannya.
“Saya ingin ada paket wisata ke Lok Baintan yang sekaligus mengunjungi Markas ALRI Divisi IV di desa kami,” ucapnya.
Pemerintah Desa telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang juga melibatkan pedagang Pasar Terapung Lok Baintan, serta menambah titian di dermaga agar akses kapal wisata lebih nyaman.
Di lokasi “Alam Roh” berdiri monumen yang diresmikan pada 16 Mei 1983, lengkap dengan relief perjuangan dan prasasti penyatuan Kalimantan Selatan dengan NKRI pada 17 Mei 1949.
Sebuah rumah adat Banjar Bubungan Tinggi berfungsi sebagai museum mini yang menyimpan benda bersejarah, seperti keris, pistol buatan tangan dari kayu ulin, dan selongsong peluru peninggalan Belanda.
Lokasi yang tenang dan sarat nilai heroik ini kini siap disambut lebih banyak pengunjung
strong
![]()
Berkat wisata sejarah, UMKM Desa Paku Alam kian dikenal
Pengembangan kawasan wisata sejarah Situs Alam Roh di Desa Paku Alam, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, kini tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjadi sumber penghidupan baru bagi warga.
Melalui pembinaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pemerintah daerah mendorong warga lokal ikut berperan aktif, mulai dari menjadi pemandu wisata, petugas parkir, hingga mengembangkan beragam produk unggulan UMKM desa.
Beragam camilan khas buatan warga kini menjadi buruan para pengunjung. Ada Seluang Krispy, Kerupuk Kariyuk, Jamur Krispi, Sepat Krispy, Banana Krispy, hingga inovasi Kue Tipakan Cookies yang lahir dari kolaborasi masyarakat dan akademisi. Semua diolah dari kekayaan alam lokal, sungai dan kebun warga sendiri.
![]()
Tak berhenti di situ, agenda tahunan Lawatan Sejarah Daerah rutin digelar dengan melibatkan ratusan pelajar.
Langkah ini menjaga kisah sejarah tetap hidup sekaligus terus mendatangkan pengunjung.
![]()
“Saya berharap tempat ini makin dikenal, sehingga produk-produk buatan warga desa bisa laku dan ekonomi kita ikut tumbuh,” kata Maman, salah seorang pengunjung.
Harapan ini selaras dengan cita-cita Pemerintah Desa Paku Alam menjadikan kawasan ini pusat wisata edukatif sekaligus pusat ekonomi kreatif masyarakat.***


















