suara banua news – MARTAPURA, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Banjar, Pribadi Heru Jaya mengatakan Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani disingkat SERASI, belum bisa persen dilaksanakan.

SELAIN terkendala luas lahan yang ada, juga terjadi keterlambatan Detail Engineering Design atau DED.


” Terkait DED, semuanya sudah clear. Program serasi ditahun ini pun masih belum bisa dikatakan gagal. Mengingat, prosesnya masih berjalan”

“-Dan menyangkut soal hasil produk, kita masih belum bisa menilai sekarang. Saya belum tahu yang mengatakan program serasi semuanya gagal itu datangnya dari mana?,” kata dia, Kamis (12/3/2020).

Tak hanya itu, Heru pun mengajak seluruh lapisan masyarakat agar menyambut baik terhadap program serasi. Mengingat, tidak semua lahan rawa lebak dangkal masuk dalam program serasi setelah diklasifikasi.

Yang perlu dipikirkan sekarang, bagaimana caranya agar rawa dan lahan tidur bisa menjadi produktif, dan manajemen air terkendali.

Hal inilah yang menjadi pokok pemikiran bersama dah harus disingkronisasikan guna tata kelola air dilahan pertanian bisa teratur, sehingga masalah banjir dapat teratasi, dan lahan pun bisa produktif, sambungnya.

Guna merealisasikan Waduk RiamKiwa, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.

Ditambahkanya, dirinya selaku anggota dewan Kabupaten Banjar, mengaku belum meninjau langsung kegiatan SERASI, meski dia berjanji akan melakukan inventarisasi sejumlah kendala yang terjadi di lapangan.

“Sejauh ini kita masih belum meninjau kelapangan, dan belum ada laporan resmi terkait gagal panen. Tapi, terkait kendalanya sudah kita pelajari”

” Begitupun terkait dana ansuransi yang belum cair, nanti akan kita bahas dalam rapat dengar pendapat, bersama Dinas TPH serta instansi terkait. Apalagi di tahun ini program SERASI bertambah lebih banyak,” bebernya.

Sementara itu, tingginya intensitas hujan yang terjadi diawal tahun 2020 dan merendam beberapa wilayah di Kabupaten Banjar, termasuk areal pertanian milik para petani dan lahan milikkelompok tani yang tergabung dalam program SERASI, dan mengancam hasil produksi pertanian?

Fakta ini juga disampaikan Suyatno Manteri Tani di Kecamatan Martapura Timur, kalau bibit padi yang ditanam dalam progam SERASI di tiga desa yakni, Desa Keramat, Keramat Baru, dan Desa Sungai Kitano, busuk akibat terendam banjir.

” Akhir Januari 2020 tercatat, 25 hektare lahan pertanian di Desa Keramat, 25 hektare di Desa Keramat Baru, dan 20 hektar di Desa Sungai Kitano terendam banjir. Begitu pula pada pertengahan Februari, tercatat 35 hektare lahan pertanian di Desa Keramat, 10 hektare di Desa Keramat Baru, dan 35 hektare di Desa Sungai Kitano terendam banjir,” ungkap Suyatno, melalui via WhatsApp, Jumat (13/3/2020).

Rinciannya, 70 hektar yang terendam pada bulan Januari dan 83 hektare pada Februari 2020. Kondisi lahan sudah diperiksa, namun sebelumnya pihaknya
mengajukan surat peningkatan Fragmentation Index (DFI) pertanian yang ditembuskan ke Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan, Penyuluh Pertanian BPP Kabupaten Banjar, dan ke Koordinator Pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), serta Kepala Labotarium Sungai Tabuk, sebut Suyatno.

” Untuk mendapatkan ganti rugi atas kerusakan bibit padi, tentunya ada persyaratan yang harus dilengkapi kelompok tani. Kalau tidak lengkap, maka 70 hektar lahan yang diprogram SERASI akibat terendam banjir, di pastikan dananya tidak akan cair,” tutupnya.***
suara banua news


**