suara banua news – BANJARMASIN, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (Forsiladi) Kalimantan Selatan Dr H Jarkawi menilai lengembangan tekhnologi metaverse di dunia pendidikan baik ditingkat atas maupun perguruan tinggi adalah sebuah terobosan yang sangat penting.

PEMANFAATAN tekhnologi melalui pertukaran siswa ataupun guru sekolah antara pulau Jawa dan Kalimantan, masih dirasakan didominasi sekolah menengah kejuruan. Bahkan, rata-rata mereka ke luar negeri, seperti yang dikelola oleh salah satu pengurus Forsiladi Kalsel di SMKN 5 Banjarmasin.


“Jadi itu benar-benar menyerap ilmu pengetahuan globalnya dan dibawa ke Indonesia. Sangat bagus,” kata Jarkawi di Banjarmasin.

Dia berharap, semua sekolah minimal dapat melaksanakan program ini antar kota dan kabupaten. Namun, jika tidak bisa juga, dapat dilakukan dalam satu kota antar wilayah.

” Misalnya SMAN 1 dengan SMAN 7 Banjarmasin. Kalau dulu kegiatan tekhnologi disisipkan dalam kegiatan lomba olahraga. Sekarang coba masuk ke dalam dunia pembelajaran,” jelas Jarkawi.

Dengan demikian, ada pencerahan bagi para siswa. Hal ini juga dapat dijadikan kesempatan untuk saling tukar menukar cara pembelajaran, yang didasarkan nilai lebih dalam pembelajaran yang disampaikan seorang guru dari sekolah lain.

” Hal itu akan membuat mutu pendidikan kita merata, artinya Itu bagus sekali dan saya mendukung hal ini,” lanjutnya.

Untuk sekolah dasar, dalam kegiatan ini bisa menggunakan metode seperti pengajaran paruh waktu dengan saling tukar menukar guru yang memberikan pengajaran secara bergantian antar sekolah yang saling bekerjasama tersebut.

Dengan begitu, perubahan pembelajaran nanti akan semakin lebih cepat terlaksana.

Untuk studi tiru ke pulau Jawa yang dilakukan beberapa sekolah dalam kurun waktu sekitar sepekan, dinilai Jarkawi, itu hanya beberapa konsep dan sampel-sampel.

Tetapi yang tidak kalah penting adalah, aktivitas program link tersebut dilakukan minimal satu semester atau beberapa waktu lainnya. Atau Gurunya yang diminta untuk kegiatan ini.

” Tentu ini ada pembiayaan yang mesti dilakukan. Dari Dinas Pendidikan mungkin dapat menganggarkan untuk pembiayaan pertukaran guru nusantara, umpamanya,” kata Jarkawi.

Mungkin saja bagi para guru di Kotabaru atau daerah pelosok lainnya yang mengambil guru di kawasan itu dan dipertukarkan ke daerah lain.

“Paling tidak menggunakan zoom meeting. Mudah-mudahan dari sekian ribu BTS itu, ada yang terealisasi, sehingga Indonesia tidak ada lagi yang terhalang oleh persoalan sinyal,” kata Jarkawi.

Dengan demikian, sekolah dasar yang berada terpencil dapat mengetahui bagaimana pembelajaran di sekolah dasar yang ada di perkotaan dan untuk itu diperlukan rintisan-rintisan yang harus dilakukan.

Dosen Senior Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Uniska MAAB Banjarmasin ini, mengimbau perguruan tinggi negeri maupun swasta di Kalimantan Selatan untuk mengembangkan pembelajaran dengan menggunakan teknologi metaverse yang membuat dunia pembelajaran lebih hidup.

Apalagi teknologi metaverse sudah umum dipergunakan di berbagai perguruan tinggi di luar negeri, saat dimulai dari kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), yang membuat calon mahasiswa tersebut dapat memasuki ruang-ruang di kampus dengan teknologi metaverse.

” Sumber daya manusia dan teknologi di perguruan tinggi, dirasakan sangat bagus dan cukup banyak, sehingga tidak sulit untuk melaksanakan teknologi metaverse tersebut, ” ungkap Jarkawi.***
budi sbn
foto ilustrasi