sbn-BANJARBARU, Fakta baru terungkap dalam kasus kematian tragis seorang ustadzah muda di Banjarbaru.
DIKETAHUI bahwa korban sudah tidak tinggal di alamat lamanya di Kompleks Bincau Indah II, Martapura, melainkan telah menetap di Jalan Seledri, Kelurahan Sungai Ulin, bersebelahan dengan rumah neneknya.
Ironisnya, lokasi tempat tinggal tersebut hanya berjarak sekitar 200 meter dari lokasi penemuan jasadnya.
“Setahu saya almarhumah pindah ke Jalan Seledri sebelum ayahnya meninggal, waktu masih kelas dua aliyah”
“Sudah sekitar sepuluh tahunan,” jelas Shopia, rekan sesama pengajar di Ponpes Muraa’tul Lughah, Jumat (1/5/2026).
Shopia menceritakan, korban dikenal sebagai sosok yang ramah, ceria, dan sangat disukai santri.
Dia mengajar bahasa Arab, nahu, dan sharaf. Menurutnya, korban tidak pernah menceritakan adanya masalah pribadi.
Kasus ini mulai mencurigakan ketika pada Selasa, korban tiba-tiba tidak masuk mengajar maupun bekerja tanpa memberi kabar.
Padahal, biasanya korban selalu memberi informasi jika berhalangan hadir. Karena tidak kunjung terlihat hingga Rabu sore, rekan-rekan kerja mulai mencarinya.
“Kami berharap polisi bisa segera mengungkap semuanya dan pelaku dihukum setimpal. Semoga tidak ada korban lain,” harap Shopia.
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, jasad korban ditemukan pada Rabu malam (29/4/2026) di lahan kosong yang dipenuhi semak-semak.
Hasil pemeriksaan dokter menemukan adanya tanda-tanda kekerasan berat. Wajah korban tertutup kain gamis, kerudung dililit kuat di mulut, dan ditemukan sumpalan kaos kaki di dalam mulut bercampur darah.
![]()
“Korban diduga meninggal akibat trauma tumpul keras di bagian kepala yang menyebabkan pendarahan hebat,” jelas Kasi Humas Polres Banjarbaru, IPDA Kardi Gunadi.
Meski demikian, polisi memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan seksual.***


















