sbn-BRUSSELS, Gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah Eropa Barat sejak 21 Juni lalu memicu situasi darurat.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setidaknya 1.300 orang meninggal dunia akibat dampak suhu yang tidak wajar ini.
Fenomena ini dinilai sebagai salah satu gelombang panas terparah sepanjang sejarah benua Eropa.
Suhu udara di berbagai negara melonjak hingga 40–45°C, bahkan di beberapa wilayah Prancis dilaporkan melampaui angka 45°C.
Kondisi begitu ekstrem hingga permukaan aspal jalan dan lampu lalu lintas di Italia serta Jerman terlihat meleleh, sementara warga mendokumentasikan permukaan tanah yang cukup panas untuk menggoreng telur dan daging.
Banyak bangunan dan pemukiman di sana dirancang khusus untuk cuaca dingin, sehingga kini berubah menjadi seperti “oven” dan sulit melindungi penghuninya dari sengatan panas.
Berbagai sektor pun lumpuh: layanan kereta api terganggu, sejumlah sekolah ditutup demi keamanan warga, dan beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir terpaksa mengurangi atau menghentikan operasi sementara.
Gedung-gedung tinggi pun menyemprotkan air dari lantai atas sebagai upaya mendinginkan bangunan, sementara Kepolisian Berlin mengerahkan meriam air untuk meredakan suhu di ibu kota Jerman.
Ilmuwan dari World Weather Attribution (WWA) menegaskan gelombang panas ini murni dampak krisis iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil, bukan dipicu fenomena El Nino.
Peristiwa ini menjadi peringatan nyata betapa besar ancaman cuaca ekstrem bagi seluruh dunia.***


















