sbn -VENEZUELA, Bencana gempa kembar yang melanda Venezuela pada 24 Juni 2026 terus menyisakan duka sekaligus harapan.
DUA guncangan dahsyat berturut-turut berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 terjadi hanya berselang 39 detik, merusak parah wilayah pesisir utara hingga ibu kota Caracas.
Hingga awal Juli 2026, data resmi mencatat korban meninggal dunia melonjak menjadi 1.943 orang, 11.267 lainnya luka-luka, sementara puluhan ribu orang masih dinyatakan hilang.
Guncangan hebat itu merobohkan total sekitar 189 bangunan, termasuk menyebabkan kerusakan struktural berat di Bandara Internasional Simon Boulevard yang memaksa pembatalan lebih dari 100 penerbangan.
Hingga kini tercatat sudah ada lebih dari 500 gempa susulan yang masih terus mengganggu jalannya penanganan bencana.
Tim penyelamat lokal dan internasional kini berpacu dengan waktu di lokasi terparah seperti La Guaira dan Distrik Ibu Kota Caracas.
Medan berat menjadi tantangan utama: infrastruktur rusak parah, jalan putus, listrik padam massal, dan gempa susulan yang terus terjadi memperlambat evakuasi.
Namun di tengah kesulitan itu, muncul kisah mengharukan: seorang bayi berusia 18 hari berhasil diselamatkan dalam keadaan selamat setelah tertimbun puing selama lebih dari 30 jam.
Dukungan dunia pun mengalir deras. Lebih dari 30 negara dan lembaga internasional turun tangan, mengerahkan lebih dari 4.000 relawan dan spesialis pencarian.
Uni Eropa memimpin tim gabungan 10 negara Eropa termasuk Italia, Prancis, dan Spanyol, di mana Italia sendiri mengirim 100 lebih personel perlindungan sipil dan pemadam kebakaran.
Perusahaan asal Tiongkok di Venezuela turut menyumbang alat berat seperti ekskavator, buldoser, dan generator untuk membongkar reruntuhan.
Dukungan dana pun tak kalah besar: PBB menyalurkan 15 juta dolar AS, Uni Eropa 5 juta euro, Palang Merah Internasional 2,5 juta dolar AS, dan Vatikan memberikan bantuan awal 100.000 euro.
Sementara total bantuan logistik fisik yang sudah tiba di lokasi bencana mencapai 7.000 ton.**


















