sbn- KHAZANAH, Kisah Qarun, seorang tokoh yang namanya tercatat dalam Al-Qur’an, menjadi pelajaran abadi tentang bahaya kesombongan dan ketidakmampuan bersyukur.
QARUN, yang disebutkan sebanyak empat kali dalam Al-Qur’an, khususnya dalam surat Al-Qashash ayat 76-83, Al-Ankabut ayat 39, dan Al-Mu’min ayat 24, adalah sepupu Nabi Musa AS.
Qarun adalah putra Yashar, saudara kandung Imran, ayah Nabi Musa. Silsilahnya terhubung dengan Nabi Yaqub, karena baik Qarun maupun Musa adalah cucu dari Quhas bin Lewi, yang bersaudara dengan Nabi Yusuf.
Awalnya, Qarun hidup dalam kemiskinan dengan banyak anak. Ia meminta Nabi Musa untuk mendoakannya agar diberikan kekayaan. Doa Nabi Musa dikabulkan, dan Qarun menjadi sangat kaya.
Namun, kekayaan ini mengubah Qarun menjadi sosok yang sombong, kikir, dan zalim.
Dia sering mengambil harta Bani Israil dan gemar memamerkan kekayaannya yang melimpah.
Dengan gudang-gudang penuh emas dan perak, Qarun selalu dikawal oleh sepuluh orang kuat yang bertugas membawa kunci-kunci gudangnya.
Qarun juga dikenal karena pakaian mewahnya, kuda-kuda, tentara, pengawal, dan istana megah.
Sebagai teman dekat Firaun, Qarun merasa tak tersentuh hukum. Namun, kekayaan yang melimpah tidak membuatnya bersyukur.
Sebaliknya, Qarun menjadi sombong dan menganggap semua yang dimilikinya adalah hasil usahanya sendiri.
![]()
Allah SWT akhirnya menurunkan azab kepada Qarun. Ia ditelan bumi bersama seluruh kekayaannya, menjadi peringatan bagi umat manusia tentang pentingnya bersyukur dan menghindari kesombongan.
Kisah ini, yang disadur dari berbagai kitab seperti Al Jaza’ min Jinsil ‘Amal, Al Qashshah wa Ibrar, At Tahdzir min Su’il Khatimah, dan 100 Qishshah min Nihayah Azh Zhalimin, mengingatkan kita akan konsekuensi dari kesombongan dan ketidakmampuan bersyukur.***


















