sbn-KHAZANAH, Muhammad Ramli, yang lebih dikenal sebagai Wali Katum, adalah sosok ulama yang sangat dihormati di wilayah Hulu Sungai Tengah.

JULUKAN “Katum” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “sembunyi,” menggambarkan bagaimana beliau menyembunyikan identitasnya sebagai seorang wali Allah di balik kesederhanaan hidupnya.


Dikisahkan bahwa Wali Katum selalu membawa Al-Qur’an bersamanya, membacanya setiap kali beristirahat.

Saking seringnya dibaca, Al-Qur’an tersebut menjadi lonjong karena sisi-sisinya terkikis.

Beliau menjalani khalwat dan uzlah selama 30 tahun, dengan hanya mengonsumsi segenggam beras per hari bersama keluarganya.

Kesederhanaan juga tercermin dari pakaian yang hanya beberapa lembar dan rumah berdinding serta berlantai rumbia.

Wali Katum diketahui pernah menimba ilmu dari Syaikh Datu Ismail Nagara selama 11 tahun dan juga dari Haji Gusti Hasan Basri (Wali Pisang), yang masih memiliki hubungan kekerabatan dan keturunan dengan pegustian Banjar.

Salah satu karamah Wali Katum yang terkenal adalah kisah seorang jamaah haji dari Hulu Sungai yang bertemu dengan seorang pria di Makkah.

Pria itu berjalan berjinjit tanpa alas kaki dan mengaku bernama Muhammad Ramli dari Desa Tabu Darat.

Jamaah haji tersebut kemudian membelikannya terompah, namun pria itu menghilang setelah menerimanya.

Setelah pulang ke kampung halaman, jamaah haji itu mencari Muhammad Ramli di Desa Tabu Darat dan terkejut menemukan bahwa orang yang ditemuinya di Makkah adalah seorang yang dikenal sebagai sosok yang suka berkhalwat.

Lebih mengejutkan lagi, terompah yang dibelinya tergantung di dinding rumah Muhammad Ramli.

Sejak saat itu, masyarakat mengetahui bahwa Muhammad Ramli adalah seorang Wali Allah dan memberinya gelar Wali Katum.

Kisah lainnya menceritakan tentang tamu yang berkunjung ke rumah Wali Katum dan bertanya apakah ada buah durian yang matang di pohon yang sedang berbuah lebat di samping rumahnya.

Wali Katum tersenyum, melihat ke arah pohon durian, dan tiba-tiba sebuah durian matang jatuh dari pohon tersebut.

Selain itu, ada banyak karamah Wali Katum lainnya, seperti lampu duduk yang tidak pernah habis minyaknya saat digunakan untuk mengajar, rumah reot yang mampu menampung banyak murid, air minum di teko kecil yang tidak pernah habis, tubuh yang tidak pernah digigit nyamuk, dan memasak nasi dengan kayu dari pelepah kelapa hijau yang selalu cukup untuk semua orang yang makan bersamanya.

Wali Katum wafat pada 24 Juni 1982 M atau 29 Sya’ban 1402 H, pada usia sekitar 70 tahun.

Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk senantiasa hidup sederhana dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.***