sbn- BATOLA, Rencana normalisasi Sungai Ray 1 yang akan dilakukan Pemkab Barito Kuala (Batola) untuk menangani banjir di tiga kecamatan yaitu Alalak, Mandastana, dan Jejangkit, menghadapi penolakan dari warga yang memiliki bangunan di sekitar sungai.
KEPUTUSAN normalisasi tersebut disampaikan melalui surat pemberitahuan dari Satpol PP Batola tanggal 9 Januari 2026.
Dalam suratnya, seluruh pemilik bangunan yang berada di sempadan Sungai Ray 1 atau jalur hijau dekat Jalan Trans Kalimantan diminta untuk merelokasi aset mereka secara mandiri.
Warga juga dilarang mendirikan bangunan baru dan diimbau untuk mendukung pelaksanaan proyek, dengan ancaman penertiban jika tidak mematuhi.
Tujuan dari normalisasi adalah memperlebar alur sungai agar kapasitas aliran meningkat, sehingga risiko banjir dapat ditekan dan fungsi Sungai Ray 1 sebagai prasarana pengendali banjir tetap terjaga.
Namun, warga terdampak menganggap kebijakan ini sepihak karena tidak ada tahap konsultasi atau dialog sebelumnya.
Di lokasi yang menjadi sasaran terdapat berbagai jenis usaha, mulai dari warung makan dan minuman, bengkel, hingga tempat usaha lainnya.
“Kami tidak menentang upaya mengatasi banjir, tapi seharusnya ada komunikasi yang baik dulu dengan kita dan bahkan dengan Bupati”
“Kita juga sering terkena banjir, jadi sangat mengerti pentingnya penanganannya,” kata Murjani, perwakilan pemilik bangunan, setelah mengadakan rapat bersama warga terdampak, Minggu sore.
Selain itu, warga juga mengajukan pertanyaan mengenai efektivitas proyek jika tidak diimbangi dengan pembukaan aliran sungai lain yang lebih strategis.
Mereka menyatakan bahwa pengerukan Sungai Ray 1 saja tidak akan cukup untuk mengurangi dampak banjir di Mandastana dan Jejangkit, kecuali jika ada akses aliran baru dari Sungai Ray 17 Desa Tabing Rimbah ke DIR Terantang di Kecamatan Mandastana.
![]()
Kondisi ini semakin kompleks karena dugaan masih adanya bangunan lain yang belum dibebaskan di lahan yang akan digunakan untuk proyek.
Kepala Satpol PP Batola, Muhammad Sya’rawi, mengkonfirmasi bahwa pengerukan akan dimulai dari Simpang Empat Handil Bakti dan berlanjut hingga ke Sungai Ray 17 di Desa Beringin.
“Kita berharap semua bangunan sudah dibongkar sebelum alat berat mulai bekerja. Pengerukan akan dilakukan setiap hari hingga target tercapai,” jelasnya.***
ahim sbn


















