sbn- PENGETAHUAN, Psikiater senior dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, Dr. Rania Awaad, mengangkat kembali warisan perawatan kesehatan mental dalam tradisi Islam yang kini nyaris terhapus dari narasi sejarah psikologi dunia.

MELALUI penelitian dan perjalanan menelusuri jejak institusi bersejarah Darus Sifa di Turki, dia menantang pandangan Eurosentris yang selama ini mendominasi pemahaman mengenai asal-usul ilmu psikologi dan pengobatan jiwa.


Dalam wawancara dengan Anadolu Agency, Awaad, yang juga pendiri organisasi nirlaba Maristan dan peneliti utama di Laboratorium Kesehatan Mental Muslim Stanford, menjelaskan bahwa Darus Sifa bukan sekadar rumah sakit biasa.

Lembaga ini merupakan pusat penyembuhan lengkap yang lahir dari nilai-nilai Islam, dengan pendekatan holistik yang merawat tubuh, akal, dan jiwa secara bersamaan.

Konsep ini sudah berkembang sejak masa Kekhalifahan Abbasiyah pada abad ke-8, kemudian berkembang pesat hingga mencapai puncaknya di masa Kesultanan Utsmani dan Seljuk.

“Selama ini sejarah psikologi ditulis seolah-olah semua pemikiran dan penemuan datang dari Eropa”

“Padahal, catatan sejarah menunjukkan diagnosa dan penanganan gangguan jiwa seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD) sudah ada dalam tradisi Islam seribu tahun lebih awal sebelum dikenal di Eropa,” kata Awaad.

Penelitian Awaad dimulai setelah ia mengunjungi salah satu Darus Sifa di Provinsi Edirne yang kini berubah fungsi menjadi museum.

Kesan mendalam itu mendorongnya menyusuri berbagai lokasi bersejarah di Turki, mulai dari Bursa, Kayseri, Sivas, Amasya, hingga Istanbul.

Bersama timnya, ia menemukan fakta baru bahwa banyak institusi ini tetap beroperasi hingga awal abad ke-20, bahkan berjalan beriringan dengan pengobatan modern, berkebalikan dari anggapan bahwa lembaga ini sudah ditinggalkan sejak lama.

Keunikan metode pengobatan di Darus Sifa terletak pada cara kerja yang mengaktifkan seluruh indra manusia.

Pengobatan tidak hanya mengandalkan obat-obatan, tetapi juga melibatkan terapi air, mandi uap, udara segar, makanan bergizi, hingga terapi suara.

Melalui irama atau nada musik tradisional bernama makam, pasien yang cemas akan ditenangkan, sedangkan mereka yang tertekan akan dibangkitkan semangatnya.

Pendekatan ini bertujuan menyembuhkan nafs atau jiwa dimensi yang menurut Awaad sering kali hilang dalam psikologi modern saat ini.

“Peradaban Islam memiliki warisan penyembuhan yang sangat indah. Di Amerika Serikat saja, banyak orang merasa tidak lagi terhubung dengan cara pengobatan jiwa masa kini”

“Warisan Darus Sifa ini perlu dikembalikan dan diperkenalkan kembali, bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk semua orang yang membutuhkan penyembuhan sejati,” tambah Awaad.

Sejarah mencatat, tradisi Darus Sifa bermula pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid (786–809 M), lalu berkembang luas hingga di masa Utsmani tercatat ada delapan lembaga serupa, lima di antaranya berada di Istanbul.

Bagi Awaad, menelusuri kembali sejarah ini bukan hanya upaya meluruskan narasi, tetapi juga membuka jalan bagi pendekatan kesehatan mental yang lebih lengkap, menyeluruh, dan menyentuh hakikat manusia seutuhnya.***