sbn-DAMASKUS, Pelantikan Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah baru menjadi peristiwa yang mengguncang seluruh umat Islam saat itu.
UNTUK pertama kalinya dalam sejarah kepemimpinan Islam, jabatan khalifah diwariskan secara turun-temurun dari ayah kepada anak, sebuah langkah yang tidak pernah dilakukan maupun diterapkan oleh para pemimpin sebelumnya.
Tindakan Muawiyah menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya ini menimbulkan beragam reaksi, terutama di kalangan penduduk kota Kufah.
Di Kufah, rasa ketidakpuasan terhadap pemerintahan Bani Umayyah semakin memuncak.
Penduduk kota itu tidak tinggal diam, mereka mengirim banyak surat kepada Sayidina Husain bin Ali yang saat itu berada di Madinah.
Di dalam surat-surat tersebut, mereka memohon dan meminta agar beliau hadir memimpin gerakan untuk menggulingkan kepemimpinan yang dianggap menyimpang itu.
Namun, Kufah sebenarnya bukanlah tempat yang asing dengan kisah duka. Kota itu pernah menjadi saksi dua tragedi besar: tempat di mana ayahanda Sayidina Husain, yakni Sayidina Ali, meninggal dunia akibat ditikam, dan tempat di mana kakaknya, Sayidina Hasan, meninggal dunia karena diracun.
Sejarah mencatat bahwa tragedi Karbala dapat dilihat dari dua sudut pandang, satu sisi yang memperlihatkan janji penduduk Kufah yang mudah diingkari, dan sisi lain yang menunjukkan ketegasan serta keinginan para pemimpin Bani Umayyah untuk mempertahankan kekuasaan.
Mendengar permohonan penduduk Kufah, Sayidina Husain akhirnya bersiap untuk berangkat bersama rombongannya yang berjumlah sekitar 72 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak.
Sebelum berangkat, para sahabat Rasulullah SAW telah memberikan peringatan tegas agar beliau tidak pergi, karena menyadari bahaya yang mengintai.
Namun, Sayidina Husain memiliki pendirian sendiri.
Beliau menyatakan bahwa niatnya bukanlah untuk segera memimpin pemberontakan atau revolusi, melainkan hanya ingin memenuhi undangan mereka, meninjau keadaan yang sebenarnya di sana, dan mengambil keputusan lebih lanjut setelah bertemu langsung dengan penduduk kota itu.
Dalam perjalanan menuju Kufah, beliau bertemu dengan seorang penyair yang memberikan nasihat penuh makna:
“Berhati-hatilah terhadap penduduk Kufah. Meskipun hati mereka berpihak kepadamu, namun pedang dan senjata mereka berada di bawah perintah Bani Umayyah.”
Ramalan itu menjadi kenyataan ketika rombongan tersebut tiba di wilayah Karbala.
![]()
Di sana, mereka telah dikepung oleh pasukan tentera Umayyah yang besar di bawah pimpinan Ubaidillah dan Syamr.
Pihak Umayyah menuntut agar Sayidina Husain menyerahkan diri dan mengaku setia kepada Khalifah Yazid, namun tuntutan itu ditolak sepenuhnya.
Ketika upaya perundingan menemui jalan buntu, Sayidina Husain berdiri berpidato dan memanggil satu per satu nama penduduk Kufah yang pernah mengirim surat serta berjanji mendukungnya.
“Di mana kalian semua?” tanyanya. Jawabannya sangat menyayat hati: sebagian besar dari mereka bersembunyi di dalam rumah, sementara sebagian lagi berdiri di belakang barisan tentera Umayyah, bersiap untuk melawan.
Di sinilah terbukti kebenaran nasihat para sahabat Nabi sebelumnya. Tragedi Karbala pun akhirnya terjadi, sebuah peristiwa kelam dalam sejarah Islam.
Seorang demi seorang anggota keluarga Nabi, golongan Ahli Bait, gugur dan syahid di bawah tajamnya pedang tentera yang konon mewakili pemerintahan Islam.
Timbul pertanyaan besar dalam sejarah: Bagaimana Sayidina Husain dan rombongannya yang sedikit jumlahnya dapat melawan pasukan sebesar itu?
Dan siapa yang berani bertindak memenggal cucu kesayangan Rasulullah SAW, sosok yang sangat dicintai oleh Baginda semasa hidupnya dahulu?


















