sbn-BANJARMASIN, Memasuki awal pekan bulan Oktober, Kota Banjarmasin masih terus diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini kini mulai dirasakan dampaknya langsung oleh masyarakat, terutama di wilayah perbatasan.

KEPALA Pelaksana BPBD Banjarmasin, Husni Thamrin, menjelaskan bahwa asap yang menyelimuti kota ini sebagian besar merupakan “asap kiriman” dari daerah tetangga, seperti Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.


Salah satu titik yang menjadi sumber utama asap saat ini berada di kawasan Tembingkar, Desa Simpang Empat, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Pemurus Dalam, Kecamatan Banjarmasin Selatan.

Husni tidak menampik bahwa wilayah Banjarmasin sendiri ikut terdampak langsung dari kebakaran tersebut.

Warga Kelurahan Pemurus Dalam, Atus, menceritakan bahwa kebakaran kembali terjadi di kawasan Tembingkar pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026. Padahal, di sekitar lokasi tersebut kini banyak berdiri pemukiman warga baru.

“Yang parah itu pasca kebakaran, dini harinya kabut menyelimuti dan berbau asap menyengat. Ada keluarga saya yang terdampak hingga harus berobat ke puskesmas,” jelas Atus.

Dia menambahkan, setiap hari ketebalan asap kian bertambah, membuat aktivitas warga terganggu dan kesehatan terancam.

“Ini kok tiap hari tambah parah. Kemarin belum setebal ini, hari ini malah makin pekat. Napas jadi susah, segala aktivitas terhambat,” keluhnya.

Keterbatasan akses membuat warga merasa tak punya banyak pilihan. “Mau protes ke mana? Kami warga biasa hanya bisa pasrah, banyak berdoa saja supaya tetap sehat,” jelasnya dengan nada lelah.

Ironisnya, lahan yang kini berulang kali terbakar itu dulunya merupakan kawasan pertanian yang produktif.

Lahan tersebut kini terlantar dan mudah terbakar karena sistem pengairan yang tidak terurus, sehingga kian memperparah risiko kebakaran yang berulang.

Bahkan siswa sekolah dasar sempat di liburkan beberapa pekan, dan beralih Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sering juga disebut Belajar Dari Rumah (BDR) secara daring (dalam jaringan).***