sbn-MARTAPURA, Meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Banjar tidak hanya menyisakan lahan gundul, tetapi juga membawa dampak nyata yang mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.
DATA terbaru menunjukkan sejak 15 Juli hingga awal Oktober 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 6.301 hektare, tersebar di 19 kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, menyebut dampak yang paling terasa adalah krisis air bersih dan gangguan kesehatan.
Sebanyak 72 desa di 16 kecamatan kini mengalami kesulitan air bersih akibat musim kemarau yang panjang.
Sementara itu, paparan kabut asap telah menyebabkan 798 warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dunia pendidikan pun tak luput. Kabut asap yang memburuk memaksa 127 sekolah beralih sepenuhnya ke pembelajaran jarak jauh.
Sebanyak 17 sekolah menerapkan sistem campuran, dan 300 sekolah lainnya terpaksa menggeser jam masuk guna melindungi siswa dari paparan asap di pagi hari.
![]()
“Selain luasnya lahan yang terbakar, kita juga menghadapi dampak kekeringan dan kabut asap. Tercatat sebanyak 798 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut. Kondisi ini membutuhkan penanganan yang cepat, terpadu dan berkelanjutan,” jelas Wasis.
Kondisi inilah yang mendorong Pemkab Banjar akhirnya menaikkan status karhutla menjadi Tanggap Darurat, sebagai langkah cepat menyelamatkan warga dan lingkungan.***


















