sbn -HISTORI, Di jantung Kalimantan, terukir kisah tentang suku Dayak Bakumpai, yang jejaknya tersebar luas di pedalaman.

BUKAN mitos dewa-dewi, melainkan realitas perdagangan, intrik politik, dan semangat perlawanan yang membentuk identitas mereka.


Sebagai pedagang ulung, mereka menjelajahi sungai-sungai, hidup sementara di atas jukung dan lanting, mengumpulkan hasil bumi untuk dibawa ke muara.

Pilihan hidup nomaden ini bukan tanpa alasan, melainkan strategi untuk melindungi diri dan mata pencaharian.

Adat Barawei menjadi perekat hubungan mereka dengan wilayah yang disinggahi. Mereka menghormati pemilik tanah, terutama di sepanjang Sungai Barito yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banjar.

Loyalitas mereka pada negeri induk Bakumpai terjalin erat, bahkan melalui ikatan perkawinan antara keluarga Pambakal Kendet dan Kesultanan.

Namun, catatan sejarah juga mencatat adanya pemberontakan Pambakal Kendet terhadap Sultan.

Konflik ini menggambarkan dinamika peperangan antarsuku yang lazim pada masa itu, diwarnai kepentingan politik dan campur tangan pihak luar.

Dari garis keturunan Nabehi Timbang, lahir Temanggung Surapati, seorang pemimpin Dayak yang disegani.

Surapati mewarisi semangat perlawanan dari leluhurnya, Ngabehi Lada, yang pernah terlibat dalam pemberontakan melawan Sultan.

Surapati kemudian menjadi sekutu setia Pangeran Antasari dalam Perang Banjar dan Perang Barito.

Peran Surapati sangat vital dalam Perang Barito. Ia memimpin pasukan yang ditakuti, dengan wilayah pengaruh meliputi Marabahan hingga Puruk Cahu.

Reputasinya sebagai pemimpin yang berani melakukan ekspedisi asang membuatnya disegani sekaligus ditakuti.

Ekspedisi asang yang dilancarkan Surapati pada tahun 1824 menargetkan suku Ngaju.

Namun, perlawanan sengit dari suku Ngaju, Kahayan, Kapuas, dan Katingan berhasil memukul mundur pasukan Surapati.

Pertempuran ini meninggalkan luka permusuhan yang mendalam antar berbagai suku Dayak.

Tradisi kayau, atau pemenggalan kepala musuh, menjadi bagian kelam dari sejarah peperangan antarsuku Dayak.

Kondisi ini mendorong pembangunan rumah betang sebagai benteng pertahanan.

Di tengah kekacauan tersebut, ancaman kolonial Belanda menyadarkan suku-suku Dayak akan musuh yang lebih besar.

Kisah Dayak Bakumpai menjadi bukti bahwa semangat perjuangan dapat tumbuh dari mana saja, dan tekad untuk mempertahankan kedaulatan tak pernah padam.***
foto ilustrasi