sbn-BANJARMASIN, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang setiap musim kemarau kembali menjadi persoalan serius di Kalimantan.

TEBALNYA kabut asap tak hanya merusak lingkungan, namun juga menurunkan drastis kualitas udara hingga ke Banjarmasin, bahkan membahayakan kesehatan warga.


Kondisi buruk ini turut dirasakan langsung saat pelaksanaan Latihan Kader II (LK II) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banjarmasin.

Meski menjadi agenda penting pembentukan kader masa depan, kegiatan ini menyisakan catatan gelap: seiring berjalannya waktu, banyak peserta mulai jatuh sakit akibat terus terpapar polusi udara tinggi.

Awalnya gejala terlihat ringan, mulai dari mata perih, tenggorokan kering hingga batuk.

Namun makin lama paparan berlanjut, kondisi makin memburuk. Peserta mulai mengalami radang saluran napas, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), sesak napas, memburuknya asma, hingga harus mendapat pertolongan medis bahkan dirujuk ke fasilitas kesehatan.

Dampak ini muncul karena udara penuh partikel halus berbahaya terus terhirup tanpa henti.

Belum adanya persiapan khusus mengantisipasi penurunan kualitas udara saat merencanakan kegiatan menjadi salah satu penyebab utama masalah ini melebar.

Dari pengalaman ini muncul pelajaran penting: setiap penyelenggaraan kegiatan harus mulai memasukkan aspek kesehatan lingkungan sejak tahap perencanaan.

Di daerah yang rutin dilanda asap, pemantauan kualitas udara serta kesiapan rencana cadangan wajib disiapkan jauh hari sebelumnya, bahkan siap mengubah jadwal maupun durasi jika kondisi udara sudah membahayakan nyata.***
usamah sbn