sbn-KHAZANAH, Gaya hidup sederhana bukan dimaknai sebagai hidup dalam kemiskinan atau kekurangan, melainkan sebuah cara pandang, sikap, dan makna mendalam dalam menjalani kehidupan.
HAL tersebut disampaikan pendakwah sekaligus pimpinan Yayasan Daarul Qur’an, KH Ahmad Jamil, saat mengulas peran dan tanggung jawab moral para pemegang jabatan publik di hadapan masyarakat.
Menurut Kiai Jamil, seseorang yang dipercaya menduduki jabatan negara secara otomatis berubah menjadi tokoh panutan dan pusat perhatian banyak orang.
Segala tindak tanduk, ucapan, hingga cara menjalani kesehariannya akan selalu dilihat, diamati, dan bisa menjadi acuan bagi masyarakat luas.
Karena pengaruh yang besar ini, perilaku yang ditampilkan pejabat akan membawa dampak nyata: apabila menunjukkan perilaku luhur dan baik, nilai kebaikan itu pun akan menyebar dan dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak.
“Karena menjadi sorotan banyak mata, pejabat wajib bersikap wajar, tidak berlebihan, bijaksana, dan menempatkan segala sesuatu pada porsinya masing-masing”
“Yang terpenting, semua itu harus lahir dari kesadaran hati yang tulus, bukan dibangun hanya demi mencari nama baik atau sekadar pencitraan semata,” tegasnya.
Dia menegaskan kembali bahwa makna kesederhanaan sejati jauh dari pengertian tidak memiliki harta atau fasilitas yang layak.
Intinya adalah cara memaknai hidup, bertindak apa adanya, serta menjauhi sikap boros dan berlebih-lebihan.
Bagi para pemimpin dan pejabat, penerapan nilai ini membawa dampak ganda; selain mampu menginspirasi orang banyak, sikap tersebut juga akan mendatangkan penghormatan serta simpati dari rakyat yang dipimpinnya.
Oleh karena itu, menjadi teladan dalam kesederhanaan sepatutnya dijadikan kewajiban moral setiap pemangku jabatan.
Lebih jauh, Kiai Jamil menjelaskan bahwa untuk membentuk karakter tersebut dibutuhkan kesadaran mendasar: paham bahwa harta, kedudukan, dan segala yang dimiliki hanyalah titipan, sehingga tidak pantas disombongkan atau dipergunakan secara berlebihan.
Di samping itu, ada nilai rohani yang mendasari sikap itu, yakni keyakinan bahwa hidup bersahaja adalah cara mendekatkan diri dan menjadikan diri dicintai oleh Allah SWT.
Sebagai rujukan utama, ia mengajak seluruh umat Islam, khususnya yang memegang tanggung jawab negara, untuk meneladani cara hidup Rasulullah SAW.
Nabi dikenal hidup sederhana, membaur sepenuhnya dengan masyarakat tanpa menciptakan jarak, serta tidak membedakan diri dari orang lain dalam pergaulan sehari-hari.
Keteladanan itu terbukti memberi pengaruh besar dan mengubah cara pandang para sahabat serta umatnya.
“Rasulullah SAW berhasil menanamkan nilai sederhana, wajar, dan proporsional kepada semua pengikutnya.
Ajaran ini tidak terbatas pada cara berpakaian saja, melainkan mencakup cara memandang harta, kekayaan, berbicara, hingga cara berhubungan dan bergaul dengan sesama manusia,” kata KH Ahmad Jamil.***


















