sbn-ANJIR PASAR, Lebih dari satu tahun berlalu, jembatan penghubung Desa Barunai Baru dengan Desa Andaman 1 dan Andaman 2, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala (Batola), masih dalam kondisi rusak parah dan tidak dapat dilalui.
JEMBATAN ini sempat dibongkar oleh tim Pemerintah Kabupaten Barito Kuala pada Mei 2025 dengan janji akan segera diperbaiki, namun hingga Selasa (16/6/2026) saat dilakukan pengecekan langsung di lokasi, tidak terlihat adanya tanda-tanda kegiatan pembangunan sama sekali.
Warga setempat pun menyampaikan rasa kecewa yang mendalam. M Dani (60), warga Desa Barunai Baru, mengaku hanya mendengar janji tanpa bukti nyata.
“Kami hanya diberi janji akan diperbaiki, tapi sampai kini belum ada tanda pembangunan apapun,” ujarnya.
Putusnya akses ini sangat memberatkan masyarakat, terutama para petani yang hendak menuju sawah dan kebun.
Warga kini terpaksa memutar jalan sejauh hampir satu kilometer lewat jembatan desa lain, sekitar 500 meter jarak tambahan dari lokasi semula, sehingga menambah waktu, tenaga, dan biaya bahan bakar yang semakin mahal.
Ketua RT 1 Desa Barunai Baru, Kursani, juga menyampaikan keluhan serupa serta belum adanya kepastian waktu pembangunan kembali.
Menurutnya, kerusakan cepat yang terjadi disebabkan material jembatan sebelumnya bukan kayu ulin asli, melainkan jenis kayu lain yang daya tahannya lebih rendah.
Warga berharap pemerintah membangun ulang secara keseluruhan dengan kualitas yang lebih baik agar kokoh dan awet.
![]()
Dampak kerusakan jembatan dirasakan tidak hanya di sektor ekonomi, tetapi juga bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan.
Masjid yang berada di seberang jembatan kini kehilangan banyak jemaah salat lima waktu maupun peserta majelis taklim rutin setiap malam Kamis, karena warga dari sisi seberang memilih beribadah di tempat yang lebih dekat.
Selain itu, sejumlah anak terpaksa pindah sekolah karena akses jauh dan keterbatasan waktu orang tua yang bekerja di ladang untuk mengantar jemput.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan dinas terkait segera turun tangan dan menyelesaikan pembangunan kembali jembatan tersebut.
Harapan mereka sederhana: akses penghubung segera berfungsi normal agar warga mudah beraktivitas, mengangkut hasil panen, serta menjalankan kewajiban ibadah dan pendidikan seperti sedia kala.***


















