sbn-MARTAPURA, Musim kemarau yang masih berlangsung menjadi perhatian khusus bagi sektor perikanan budidaya di Kabupaten Banjar.
MESKI produksi hingga triwulan III 2026 telah mencapai sekitar 38.000 ton, perubahan kualitas air tetap menjadi tantangan utama yang harus diwaspadai para pembudidaya.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Banjar, Bandi Chairullah, menjelaskan bahwa suhu air yang meningkat dan debit air yang menurun dapat memengaruhi kadar oksigen dan mempercepat pertumbuhan zat beracun di air.
Kawasan keramba di Mali-Mali, Sungai Landas, Sungai Arfat, dan Pingaran menjadi prioritas pemantauan.
“Kami belajar dari pengalaman Juli lalu, di mana ikan bawal sempat mengalami kematian di beberapa lokasi. Lebih baik mencegah daripada mengobati, itulah pesan utama kami saat ini,” jelas Bandi.
Sambil terus berupaya mencapai target produksi tahunan sebesar 55.993 ton, DKPP Banjar memberikan panduan praktis bagi pembudidaya: rutin cek kualitas air, kurangi pakan saat suhu panas ekstrem, dan sesuaikan kepadatan ikan.
Sebagai solusi saat air sungai menipis, pemerintah daerah menggalakkan penggunaan kolam terpal bundar untuk ikan papuyu dan lele, dua komoditas yang tangguh namun bernilai ekonomi tinggi.
Kolam terpal dinilai lebih hemat air dan memudahkan pengendalian kualitas air, sehingga produksi dapat tetap berjalan meski cuaca sedang tidak bersahabat.***


















