SUARABANUANEWS-MARTAPURA, PEMERINTAH Kabupaten Banjar melalui Dinas PUPR nya mentargetkan progresif pencapaian Universal Acces (UA) 100 0 100 di tahun 2021 bisa 100 persen tercapai.
HAL TERSEBUT diungkapkan Kepala Bidang Cipta karya Dinas PUPR Kabupaten Banjar Erwan Jaya saat diwawancarai Suarabanuanews beberapa waktu lalu diruang kerjanya.
Disampaikannya bahwa sejak tahun 2018 hingga oktober 2019 ini progresif pelaksanaan program UA 100 0 100 di Kabupaten Banjar di bidang air bersih atau minum sudah mencapai 73,2%
Sementara ntuk penanganan sanitasi yang tersebar di wilayah pinggiran sungai d kabupaten banjar juga sudah mencapai 45,9% saat ini.
![]()
Untuk terus mendongkrak pencapaian program sanitasi tersebut, Bidang Cipta karya mentargetkan penghapusan 1000 jamban apung hingga tahun 2021 mendatang dari total 9000 jamban apung yang sudah terdata oleh Dinas PUPRA melalui Bidang Cipta karyanya.
Erwan Jaya juga menjelaskan penghapusan 1000 jamban tersebut bukanlah hal mudah pasalnya hal ini terkait kultur atau pola kebiasaan masyarakat sungai martapura yang masih menjadikan aktifitas Mandi Cuci dan kakus (MCK) di sungai yang juga dijadikan sebagai sumber air baku untuk diolah kembali sebagai air bersih dan air minum.
“Merubah pola kebiasaan masyarakat ini tidaklah mudah, namun bukan berarti mustahil selama kita mau bersama sama menginginkan suatu perubahan yang baik ” jelasnya.
Perubahan pola MCK terkendali melalui pengadaan septic tank individual adalah salah satu cara yang tepat merubah sekaligus memperbaiki kultur budaya masyarakat singai tersebut.
Program septic Tank individual ini sendiri dilaksanakan melalui kerjasama lintas wilayah yang mana anggaran dananya juga dilakukan bersama sama antara dana APBD dan Dana Desa.
Program Toilet Komunal dianggap Erwan jaya juga kurang cocok dilaksanakan di wilayah Kabupaten banjar karena kontur wilayah yang tidak memadai, berbeda dengan kota kota besar lainnya di Kalimantan Selatan, jadi Septic tank Individual adalah solusi terbaik penanganan sanitasi di Kabupaten Banjar saat ini.
” perbedaan contour daerah yang menurut kami kurang cocok untuk program toilet komunal dan Program Septic Tank Individual inilah yang menurut kami lebih efektif untuk di adopsi ” imbuhnya.
Penyerapan dana untuk progresif air minum dan sanitasi saja hingga saat ini sudah mencapai 20 milyar rupiah, dan diharapkan, setiap tahunnya bisa berkurang pasca realisasi pencapaian program yang sudah ada.
” Keterbatasan lahan serta keterbatasan anggaran adalah salah satu kendala yang masih dihadapi, namun begitu bukan berarti tidak ada alternatif cara lain dalam pencapaian program tersebut ” kilahnya.
Peran serta dan kontribusi dari pihak swasta juga adalah alternatif lain dalam mendukung program ini, karena sasaran utama dari program ini masih diprioritaskan pada masyarakt yang ada di pinggiran sungai Kabupaten Banjar.
” Kami ingin coba mulai membiasakan pola sanitasi yang baik dan sehat bagi masyarakat kami, karena hal tersebut nantinya akan berdampak pada pola kehidpuna mereka juga nantinya ” timpal Erwan.
Erwan berharap keseriusan penanganan program UA khususnya di sektor Sanitasi lebih jadi prioritas karena dengan berubahnya pola sanitasi yang baik di masyarakat maka secara langsung akan berpengaruh pada kualitas air bersih itu pola, dan pencapaian kedua program UA dibidang air bersih dan sanitasi akan tercapai secara seimbang.
” Setiap program pastilah akan dipandang dari dua sisi oleh objek dari program tersebut, namun begitu bukan serta merta contra yang dihadapi menghentikan langkah baik yang ada, karena program itu kami yakin bisa memberikan dampak yang baik bagi masyarakat makanya kami semangat untuk melaksanakannya ” tandas pria ramah tersebut.***

















