![]()
suara banua news – BATOLA, Pejuang lingkungan peraih penghargaan ASEAN Youth Eco Champion Award 2019 di Cambodia ini, rupanya upaya terhadap pelestarian lingkungan tidak berhenti sampai disini saja. Tahun 2020 ini ia berkomitmen menanam pohon mangrove rambai (Sonneratia caseolaris ), dalam rangka perbaikan habitat ekosistem lahan basah dan mitigasi perubahan iklim terhadap ancaman pemanasan global.
SEPERTI diketahui luas hutan mangrove Indonesia sekitar 3,49 juta hektar, yang kondisi baik seluas 1,67 juta hektar, sedangkan kritis 1,82 juta hektar.
![]()
Hutan mangrove sangat penting. Ia menyediakan air, makanan, dan mata pencaharian bagi miliaran orang di seluruh dunia. Ia mengandung keanekaragaman kehidupan yang luar biasa. Ia menghasilkan oksigen yang kita hirup dan mengatur iklim kita.
Tragisnya, ia dihancurkan pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Sebagian besar oleh olah perbuatan manusia untuk kepentingan ekonomi serta pembangunan, melalui kegiatan alih fungsi lahan yang tak jarang tidak mengindahkan kaidah pelestarian alam dan lingkungan.
![]()
Proses ini dapat memusnahkan sebagian besar spesies dalam ekosistem hutan mangrove itu. Yang juga mengancam kelangsungan hidup masyarakat adat, dan semua kehidupan di Bumi. Terutama dampak dari perubahan iklim yang ditimbulkannya, akibat pembabatan hutan, khususnya hutan mangrove. Mengingat hutan mangrove mampu menyerap karbon 40% lebih dari hutan tropis lainnya.
Berdasarkan data Wetlands, terdapat 197 jenis burung air di Indonesia yang 108 jenis dilindungi. Belum lagi primata unik yang dilindungi seperti bekantan ( Nasalis larvatus ) dan berbagai jenis mamalia serta ikan.
![]()
Untuk itu Amalia Rezeki pendiri SBI foundation sejak di Forum Asean Day di Helsinki – Finlandia 2019 lalu, berkomitmen memerangi perubahan iklim dengan melakukan restorasi mangrove, khususnya pohon mangrove rambai. Saat ini ia bersama warga lokal sedang membibitkan ribuan pohon rambai.
Bertepatan hari lahan basah sedunia yang jatuh setiap tanggal 02 Februari, kerusakan dan kehilangan hutan mangrove menjadi peringatan bersama karena salah satu faktor pemicu pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir.
![]()
” Semua itu mengancam kehidupan kita, jika tidak ada upaya pencegahan. Ini darurat dan untuk itu kita harus bertindak mulai sekarang “, kata Amalia Rezeki mahasiswa program doktoral dibidang lingkungan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Keadaan darurat iklim kini sudah mulai dirasakan dan memengaruhi kehidupan dalam banyak hal. Kondisi itu ditandai dengan adanya musim kering yang panjang, banjir, kebakaran hutan yang hebat hampir melanda seluruh kawasan di dunia dan polusi udara yang membahayakan, yang saat ini sangat dirasakan dibeberapa negara, sambungnya.
![]()
Menurut dia lagi, kondisi yang kini terjadi, sama seperti yang disampaikan para ilmuwan terkemuka didunia, yang telah memperingatkan bahwa kita memiliki kurang dari 12 tahun untuk mengambil tindakan darurat terhadap perubahan iklim, kita menghadapi ancaman paling buruk terhadap lingkungan lokal maupun global, akibat perubahan iklim dan pemanasan global.
![]()
Untuk itulah Amalia Rezeki bersama lembaga konservasi yang dipimpinnya, melalukan aksi nyata dengan kegiatan menanam pohon mangrove, khususnya pohon rambai, sejak tahun 2014. Dan tahun 2020 ini bertepatan Hari Lahan Basah Sedunia Amalia Rezeki 10.000 pohon rambai akan ditanamnya dibeberapa kawasan yang dianggapnya kritis, dengan melibatkan masyarakat lokal setempat. Seperti yang sekarang ditanam dikawasan mangrove rambai center, di Anjir Muara – Barito Kuala – Kalimantan Selatan.***
ahim sbn
![]()
***
















