suara banua news – SEJARAH, Pada masa penjajahan Belanda, gelar kehormatan “Haji” yang diberikan kepada mereka yang pulang dari ibadah haji menyimpan sejarah yang ironis.

BUKANNYA sebagai bentuk penghormatan tulus, gelar tersebut justru menjadi alat pengawasan pemerintah kolonial.


Kekhawatiran akan potensi radikalisasi dan perlawanan dari para jemaah haji yang terpapar ide-ide Pan-Islamisme dari Timur Tengah menjadi latar belakangnya.

Tokoh-tokoh pemikir seperti Rasyid Ridha, Jamaluddin al-Afghani, dan Muhammad Abduh, yang pemikirannya mendorong perlawanan terhadap penjajahan, menjadi sumber kecemasan bagi pemerintah Belanda.

Momentum ibadah haji, yang dimanfaatkan untuk bertukar pikiran dan merancang strategi perlawanan, semakin meningkatkan kewaspadaan mereka.

Pemerintah kolonial bahkan membatasi perjalanan haji bagi kalangan sultan, bupati, dan elite lokal untuk mencegah potensi pemberontakan.

Syekh Nawawi al-Bantani, tokoh dakwah dan pejuang anti-kolonial, menjadi salah satu contoh yang mengalami pembatasan pergerakan.

Sir Stamford Raffles, dalam The History of Java, mencatat kekhawatiran akan pengaruh para haji yang dihormati dan berpotensi menghasut rakyat.

Sejak tahun 1916, gelar “Haji” berfungsi sebagai tanda pengenal yang memudahkan pengawasan terhadap jemaah haji.

Strategi ini dianggap lebih efisien daripada mengawasi setiap individu di berbagai daerah.

Namun, pandangan ini dipertanyakan oleh beberapa pihak, termasuk Snouck Hurgronje dan Konsul Hindia Belanda di Jeddah, yang menyarankan agar prosedur haji dipermudah.

Mereka berpendapat bahwa semakin banyak jemaah haji akan mengurangi eksklusivitas gelar tersebut, sehingga mengurangi potensi radikalisasi.

Kini, makna gelar “Haji” telah bergeser. Gelar tersebut lebih dikenal sebagai simbol status sosial dan spiritual, melupakan sejarah kelamnya sebagai alat pengawasan kolonial.

Perjalanan haji yang dulunya penuh perjuangan, baik secara finansial maupun administratif, kini telah jauh berbeda.

Kemudahan akses dan teknologi telah mengubah pengalaman haji, sehingga makna perjuangan dan pemahaman agama yang mendalam yang melekat pada gelar tersebut mulai memudar.

Meskipun demikian, perjuangan untuk menunaikan ibadah haji tetaplah sesuatu yang patut dibanggakan.***
diolah dari berbagai summer
foto net