sbn- JAKARTA, Media sosial kembali riuh dengan perdebatan hangat seputar isu pindah kewarganegaraan, menyusul video viral Dwi Sasetningtyas yang mengungkapkan anaknya mendapat kewarganegaraan Inggris.

SENTIMEN publik langsung meradang, mengingat Dwi adalah alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), program yang didanai dari keringat pajak rakyat.


Fenomena ini rupanya tak luput dari perhatian pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam konferensi pers APBN KiTa Senin (23/2/2026), turut angkat bicara mengenai polemik yang tengah bergulir ini.

“Mungkin 20 tahun lagi dia akan menyesal, karena 20 tahun lagi kita akan bagus banget,” kata Purbaya, menyiratkan optimisme yang kuat terhadap masa depan Indonesia.

Pernyataan Menkeu Purbaya bukan sekadar sindiran sesaat, melainkan sebuah penegasan terhadap keyakinan pemerintah akan potensi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Pesan di baliknya adalah ajakan untuk melihat gambaran yang lebih besar dari sekadar satu kasus viral, fokus pada visi “Indonesia Emas 2045”.

Indonesia Emas 2045: Sebuah Janji untuk Generasi Muda

Bayangkan seorang anak yang lahir di tahun 2020. Pada tahun 2045-2046, mereka akan berada di usia produktif 25-26 tahun, masa krusial untuk meniti karir dan mengejar impian. Di sinilah visi Indonesia Emas berperan.

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan ekonomi Indonesia pada tahun 2045 dapat mencapai sekitar US$8,89 triliun, menempatkannya sebagai salah satu dari empat ekonomi terbesar dunia.

Indonesia Emas bukan hanya angka, tetapi sebuah janji akan perubahan fundamental.

Berdasarkan visi Bappenas, pendapatan per kapita Indonesia dipatok mencapai US23.199 atau setara Rp 390 juta (kurs Rp16.815/US).

Ini berarti, generasi muda yang lahir hari ini akan menikmati daya beli yang jauh lebih kuat di masa depan.

Lebih dari Sekadar Statistik: Kehidupan Nyata yang Lebih Baik

Angka-angka ini akan diterjemahkan menjadi realitas yang konkret. Akan ada lebih banyak peluang kerja berkualitas, standar gaji yang kompetitif, dan layanan publik yang jauh lebih baik berkat ruang fiskal negara yang membesar.

Ketika potensi hidup yang lebih cerah menanti di Tanah Air, keputusan untuk meninggalkan kewarganegaraan Indonesia bisa jadi merupakan langkah yang tergesa-gesa.

Fondasi Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Visi Indonesia Emas menargetkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang rata-rata 5,7% per tahun.

Angka ini adalah fondasi untuk pertumbuhan berkelanjutan. Apabila target ini tercapai, ekonomi Indonesia dua dekade mendatang akan jauh melampaui kondisi saat ini, membuka lebar pintu kesempatan.

Pasar kerja akan berkembang, investasi mengalir deras, sektor-sektor baru bermunculan, dan mobilitas sosial akan semakin dinamis.

Perusahaan akan berlomba-lomba menarik talenta terbaik, menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan diri dan karir.

Mengikis Kemiskinan, Membangun Masyarakat yang Adil

Selain itu, Indonesia Emas juga memiliki target ambisius untuk menekan angka kemiskinan hingga 0,5-0,8 persen, dengan ketimpangan yang semakin mengecil.

Ini berarti Indonesia tidak hanya akan menjadi negara yang lebih kaya, tetapi juga lebih adil dan sehat secara sosial.

Akses pendidikan dan kesehatan akan semakin merata, tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Kualitas sumber daya manusia akan meningkat secara kolektif, dan peluang akan tersedia luas, tidak lagi terbatas oleh di mana seseorang dilahirkan.

Bagi generasi yang lahir di tahun 2020, ini adalah tentang kualitas hidup. Lingkungan yang lebih aman, persaingan yang lebih sehat, dan kesempatan yang adil untuk semua. Ini adalah investasi Indonesia untuk masa depan warganya sendiri.***