sbn-MADINAH, Di tengah hiruk-pikuk Perang Dunia I, nama Omer Fahreddin Pasha, lebih dikenal dengan sebutan Fakhri Pasya, tercatat dalam sejarah sebagai salah satu komandan militer Kesultanan Utsmaniyah paling legendaris.

DIJULUKI Singa Padang Pasir, namanya melekat erat pada pertahanan heroik Kota Madinah yang berlangsung dari tahun 1916 hingga awal 1919.


Semuanya bermula pada 1916, ketika Kesultanan Utsmaniyah menunjuk Fakhri Pasya untuk menjaga kota suci tersebut.

Situasi berubah drastis saat Syarif Husein, penguasa Hijaz, memutuskan memberontak dan bersekutu dengan pasukan Inggris.

Akibatnya, Madinah terputus total dari dunia luar: jalur suplai makanan, obat-obatan, dan bala bantuan militer terputus sepenuhnya.

Meski diberi peluang menyerah berkali‑kali, Fakhri Pasya menolak berunding.

Pengepungan itu berlangsung luar biasa lama, tepat selama 2 tahun 7 bulan. Pasukan yang dipimpinnya bertahan dalam kondisi yang menyiksa: kelaparan parah, wabah penyakit, dan cuaca padang pasir yang ekstrem.

Demi tetap hidup, mereka terpaksa mengonsumsi belalang dan apa saja yang dapat dimakan di tengah gurun tandus.

Di balik ketegasan militer, tersimpan sisi spiritual yang mendasari setiap keputusannya.

Fakhri Pasya dikenal memiliki kecintaan yang sangat dalam kepada Nabi Muhammad SAW.

Dia kerap bercerita mendapatkan penglihatan dalam mimpi, di mana Rasulullah SAW memerintahkannya untuk tidak pernah menyerahkan Madinah ke tangan musuh.

Pesan itu menjadi kekuatan batin yang menjaga semangat pasukannya tetap menyala.

Sebelum kondisi kota makin genting dan jalur Kereta Api Hejaz putus total, Fakhri Pasya mengambil langkah berani dan rahasia.

Dia memerintahkan evakuasi semua peninggalan suci, termasuk relik milik Nabi Muhammad SAW, dikirim lewat kereta api menuju Istanbul.

Tindakan ini dilakukan agar harta berharga umat Islam tersebut aman dari ancaman penjarahan dan perusakan pasukan musuh.

Perjuangan berat itu akhirnya harus berakhir pada Januari 1919. Bukan karena kekalahan tempur, melainkan karena tekanan politik yang kuat serta perintah langsung dari pemerintah pusat Utsmaniyah yang saat itu sudah kalah dalam Perang Dunia I.

Fakhri Pasya akhirnya ditangkap dan pertahanan Madinah runtuh.

Meski berakhir dengan penangkapan, kisah hidup dan perjuangan Singa Padang Pasir tidak pernah pudar.

Dia dikenang sepanjang sejarah sebagai simbol kesetiaan tak tergoyahkan, keberanian luar biasa, dan pengabdian total demi agama serta kota suci.

Sejarahwan mencatat setidaknya tiga sisi kisah ini yang paling menarik untuk dikaji lebih dalam: latar belakang rencana evakuasi relik suci ke Istanbul, bagaimana logistik makanan dari belalang dijalankan saat Madinah terkepung, serta dampak luas pemberontakan Arab terhadap keruntuhan Kekaisaran Utsmaniyah.***