sbn- MARTAPURA, Nama Tunggul Irang Ulu mungkin terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan kisah panjang yang menautkan masa lalu dan masa kini.
TERLETAK di tepian Sungai Martapura, desa ini lahir dari sebuah tunggul pohon berwarna gelap atau dalam bahasa Banjar disebut “irang”, yang sejak lama menjadi tanda alami bagi para pelaut dan pedagang sungai untuk menambatkan jukung mereka.
Sejarah yang Membelah Sungai
Ketika jumlah penduduk semakin bertambah, Desa Tunggul Irang yang sempat berdiri sebagai satu kesatuan wilayah, akhirnya dipecah menjadi tiga desa mandiri.
Posisi di bagian hulu sungai menjadikan wilayah ini bernama Tunggul Irang Ulu, sementara dua saudaranya yang lain dikenal sebagai Tunggul Irang Ilir dan Tunggul Irang Kanginan.
Warisan Ulama yang Tak Pudar
Kawasan ini juga memiliki nilai sejarah yang istimewa. Di sinilah, sekitar tahun 1891, lahir seorang tokoh ulama besar, KH. Abdul Qadir Hasan.
Beliau adalah sosok di balik berdirinya Pondok Pesantren Darussalam Martapura dan menjadi pelopor gerakan keislaman di Kalimantan Selatan.
Warisan pemikiran dan keteladanan beliau masih terasa hingga kini di tengah masyarakat Tunggul Irang Ulu.
Wajah Desa Masa Kini
Kini Tunggul Irang Ulu di bawah kepemimpinan Pambakal Hasan Asyari (periode 2022–2028) terus berbenah.
Dengan 1.161 jiwa penduduk yang hidup berdampingan di kawasan pertanian yang subur, desa ini memiliki batas wilayah yang jelas, berbatasan dengan lima desa tetangga.
Kantor Desa yang baru berdiri di Jalan Melati menjadi pusat pelayanan warga, berdiri tegak tak jauh dari sungai yang dulu menjadi saksi lahirnya nama desa ini.
![]()
Dari sebuah tunggul pohon tua yang tak bernama, kini Tunggul Irang Ulu tumbuh menjadi desa yang mandiri, berbudaya, dan terus melangkah menuju masa depan yang lebih sejahtera.***


















