sbn-KALBAR, Pendaratan pasukan militer Jepang di Pantai Karta, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, pada Jumat (11/9/2026) bukanlah momen penjajahan, melainkan langkah kemanusiaan.

PASUKAN Bela Diri Jepang (JSDF) hadir untuk membantu Indonesia memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di wilayah tersebut.


Kedatangan ini terbagi dalam dua gelombang pendaratan. Kamis (10/9/2026), kapal utama JS Kunisaki bersandar di Pelabuhan Internasional Kijing, Mempawah, membawa 180 personel serta tiga helikopter berat CH-47 Chinook.

Sehari kemudian, dua unit kapal amfibi bantalan udara LCAC-05 dan LCAC-06 mendarat langsung di Pantai Karta untuk menurunkan kendaraan dan logistik.

Warga yang menyaksikan sempat terkejut karena lokasinya mirip pendaratan masa lalu, namun seluruh proses berjalan aman dan diawasi ketat TNI.

Jepang mengerahkan peralatan canggih kelas berat. Tiga helikopter Chinook dilengkapi Bambi Bucket, kantong air raksasa berkapasitas 5.000 liter yang bisa dituangkan ke titik api hanya dalam 3 detik.

Helikopter ini mampu mengisi ulang air tanpa mendarat, serta tetap stabil beroperasi di tengah asap tebal dan angin kencang berkat desain dua rotor khasnya.

Di darat, kapal amfibi LCAC memungkinkan bongkar muat langsung di pantai tanpa butuh pelabuhan, mempercepat penyaluran bantuan.

Seluruh kekuatan ini beroperasi bersama TNI dengan pangkalan di Lanud Supadio, Kubu Raya.

Penerbangan pemadaman udara dimulai 13 September dan dijadwalkan berlangsung hingga 26 September 2026, total durasi misi sekitar 21 hari.

Kerja sama ini didasari Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (DCA) kedua negara, dengan BNPB menentukan sasaran titik api prioritas di lahan gambut yang sulit dijangkau darat.

“Kehadiran kami murni untuk misi kemanusiaan. Seluruh operasi berjalan di bawah koordinasi dan pengawasan TNI serta BNPB,” Jelas perwakilan Pasukan Bela Diri Jepang.

Kerja sama resmi berdasarkan kesepakatan pertahanan kedua negara. BNPB arahkan sasaran titik api di lahan gambut yang sulit dijangkau darat.***