suara banua news – BANJAR, Polisi mengungkapkan, kronologi kejadian tenggelamnya Klotok Santri Putra Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru di Aluh Aluh, ketika para para Santri datang untuk menghadiri acara hajatan salah satu pengajar dari pondok mereka.

” Para santri itu datang dari Ponpes Al Falah untuk menghadiri hajatan salah satu ustadz mereka yang sedang melaksanakan pernikahan anaknya di Aluh Aluh,” jelas Kapolsek Aluh-Aluh IPDA Muslim.


Di Aluh Aluh, ternyata, ada salah satu santri yang merupakan warga asli. Mengetahui hal tersebut, para santri pun memiliki keinginan untuk jalan-jalan menaiki klotok (perahu mesin).

“Karena rata-rata para santri ini baru pertama kali naik klotok, mereka tidak bisa menyeimbangkan posisi sehingga klotok oleng dan tenggelam,” jelasnya lagi.

Klotok yang diisi oleh kurang lebih 30 orang itu akhirnya oleng dan karam sesaat mereka naik klotok.

“Dari data kami, ada 27 orang yang selamat dan 3 orang dinyatakan hilang. Satu dari tiga orang sudah ditemukan yakni Rizqi warga Sungai Lulut,” sambungnya.

Hingga Senin 28 Oktober 2024, Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap dua orang korban asal Pelaihari dan Kalimantan Timur.

Salah satu orang tua, yakni ibu dari Muhammad Safriyan asal Pelaihari mengaku terkejut ketika mendapat informasi ini. Khairiyah (49 tahun) mengatakan, pada hari kejadian ia baru saja pulang dari Gambut.

“Saat sudah sampai Pelaihari setelah Isya, saya terkejut dapat informasi anak saya hilang tenggelam di Aluh-Aluh,” ungkapnya.

Selama perjalanan dari Gambut menuju Pelaihari, Khairiyah tidak bisa mengakses handphonenya karena kehabisan paket data.

Lantas, ia pun segera tancap gas ke Aluh-Aluh untuk memastikan kabar duka itu.

“Saya malah gak tau kalau anak saya lagi ada di luar Pondok, dia ada acara apa disini, karena setahu saya kalau mau berkegiatan di luar pondok harus ada izin dari pihak pengurus pondok,” kata Khairiyah.

Ia pun berharap, semoga anak bungsunya itu segera ditemukan dan bisa membawanya pulang.

Di sisi lain, beberapa warga bantaran Sungai Aluh-Aluh sejak Minggu malam hingga Senin siang, terpantau melakukan tradisi melabuh.

Melabuh sendiri merupakan tradisi suku Banjar yang berarti melepaskan atau menghanyutkan sesajen ke sungai.

“Beberapa warga dari malam tadi sudah melabuh telur rebus dan lakatan (ketan) di Sungai dengan harapan mereka yang belum ditemukan itu bisa segera ditemukan,” jelas salah seorang warga, Paman Aini.

Diceritakan Aini, kawasan Sungai Aluh-Aluh, terlebih daerah dermaga memang terkenal angker.

Kepercayaan masyarakat setempat, Sungai Aluh-Aluh lebih tepatnya di titik yang menjadi tempat karamnya klotok para santri memang terkenal angker.

“Kepercayaan masyarakat kami, orang zaman dahulu (datu) banyak memiliki peliharaan ghaib, seperti buaya putih. Jadi kami sendiri sering menjaga adab di sungai ini,” jelasnya. ***
nr sbn