suara banua news – EKONOMI, Emas dan perak, dua logam mulia yang selama ini menjadi primadona investasi, kini tengah menarik perhatian investor dengan dinamika yang berbeda.

MESKIPUN emas tetap menjadi pilihan prestisius, perak mulai dilirik sebagai alternatif investasi yang menjanjikan.


Hal ini didorong oleh prediksi Robert Kiyosaki, penulis buku “Rich Dad Poor Dad”, yang memperkirakan harga perak akan “meledak” pada Juli 2025.

Robert menyebut perak sebagai “pembelian asimetris terbaik” saat ini, menawarkan potensi keuntungan tinggi dengan risiko kerugian yang relatif rendah.

Harga perak yang lebih terjangkau menjadi daya tarik utama bagi investor pemula.

Perbandingan harga emas dan perak yang signifikan dengan harga emas mencapai puluhan juta rupiah sementara perak hanya jutaan rupiah untuk ukuran 50 gram membuat perak semakin diminati.

Hal ini terlihat dari peningkatan permintaan perak di berbagai toko emas di Indonesia, seperti yang dilaporkan oleh pedagang di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat.

Para pedagang mencatat peningkatan signifikan dalam penjualan perak, bahkan sampai harus inden.

Para pembeli perak pun mengungkapkan alasan mereka.

Beberapa melihat potensi kenaikan harga perak yang signifikan mengingat selisih harga yang cukup jauh dengan emas saat ini.

Mereka meyakini perak akan “mengejar” harga emas dalam waktu dekat.

Data Refinitv pada 27 Juni 2025 menunjukkan penguatan harga emas dunia sebesar 24,74 persen sejak awal tahun, mencapai US$3.272,9 per troy ons.

Kondisi ini semakin memperkuat argumentasi bahwa perak, dengan harganya yang masih relatif rendah, memiliki potensi untuk mengalami kenaikan harga yang signifikan.

Prediksi Kiyosaki dan tren peningkatan permintaan di pasar domestik semakin menguatkan potensi perak sebagai alternatif investasi yang menarik di tengah gejolak pasar logam mulia.***