suara banua news-HIKMAH, Yogyakarta 1950. Suatu hari, Sultan Hamengkubuwono IX melakukan blusukan ke pelosok desa.
DI DESA Godean, Land Rover yang ditumpanginya dihentikan seorang perempuan penjual beras.
Sang penjual, tak mengenal wajah Sultan, mengira beliau adalah sopir angkutan beras biasa.
Tanpa basa-basi, ia meminta bantuan Sultan untuk mengangkut karung-karung berasnya ke Pasar Kranggan.
Dengan ramah, Sultan mengangkat dua karung beras besar ke bak Land Rover. Perempuan itu pun ikut naik, duduk di samping Sultan.
Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol akrab. Sesampainya di pasar, Sultan menurunkan karung-karung beras itu.
Ketika perempuan itu hendak membayar ongkos, Sultan menolak dengan tersenyum.
Kekecewaan dan omelan penjual beras pun pecah karena mengira ongkosnya kurang.
Dengan sabar, Sultan menjelaskan, “Pun boten sisah, Mbakyu” (Tidak usah bayar, Mbakyu).
Kejadian ini diceritakan dalam otobiografi Mayor Pranoto Reksosamodra, “Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra : Dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya”.
Setelah Sultan pergi, perempuan itu terus mengomel, tak menyadari bahwa banyak orang menyaksikannya.
![]()
Seorang polisi kemudian memberitahunya bahwa “sopir” yang baru saja diomelinya adalah Ngarsa Dalem (sebutan untuk Sultan).
Kaget bukan main, perempuan itu pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda. Mendapat laporan itu, Sultan pun menjenguknya.
Kisah ini menggambarkan sosok Sultan Hamengkubuwono IX yang sederhana dan murah hati, jauh dari kesan seorang raja yang agung dan berjarak.
Meskipun menggunakan Land Rover, kendaraan yang saat itu digunakan untuk meninjau desa-desa bekas pertahanan gerilya, beliau tetap dekat dengan rakyatnya.
Bahkan, saat meninjau pasar beras di bekas daerah gerilya, para penjual beras tak mengenali beliau sebagai Ngarsa Dalem yang sangat mereka hormati.
Kisah ini menjadi bukti nyata kedermawanan dan kepedulian Sultan HB IX terhadap rakyatnya.***
foto : Sri Sultan Hamengkubuwono IX. (Arsip Nasional Belanda


















