sbn- HISTORY, Di balik gemuruh sejarah dan kearifan lokal Kalimantan Selatan, nama tiga tokoh legendaris terus hidup dan bergema di hati masyarakat Kabupaten Tabalong.
MEREKA adalah Datu Ja’far, Datu Kartamina, dan Datu Abi. Ketiganya bukan sekadar nama dalam catatan masa lalu, melainkan simbol perjuangan penyebaran agama Islam, pelindung wilayah, dan penjaga tradisi yang hingga kini tetap dihormati dan dirindukan kehadirannya.
Datu Ja’far bin Daud yang berasal dari Banua Lawas dan diketahui masih kerabat dekat dengan Sultan Banjar ini, dikenal sebagai tokoh penting yang memimpin dan menyebarkan ajaran Islam di wilayah Sungai Hanyar.
Meskipun tidak memiliki hubungan darah langsung dengan Datu Kartamina dan Datu Abi, ketiganya selalu disebut bersamaan dalam berbagai cerita rakyat dan upacara adat, salah satunya dalam ritual Malabuh.
Dalam perjalanan sejarah, peran mereka saling melengkapi dan membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Datu Kartamina berperan sebagai pembuka syiar Islam dan leluhur yang meletakkan dasar keyakinan.
Setelahnya, Datu Abi hadir sebagai penjaga warisan, tradisi, dan segala peninggalan berharga.
Sementara Datu Ja’far melanjutkan perjuangan dengan menyebarkan ajaran tersebut ke wilayah-wilayah lain.
Secara geografis, tempat peristirahatan mereka pun membentuk poros yang disebut sebagai segitiga sakral, meliputi wilayah Pugaan dan Banua Lawas di Tabalong Selatan.
Lokasi ini kini menjadi tujuan rute ziarah yang banyak dikunjungi orang dari berbagai tempat.
Bagi warga Tabalong, ketiga tokoh ini bagaikan “titik jangkar” yang menjaga keselamatan sepanjang aliran sungai.
Keberadaan mereka menjadi pengingat akan perjuangan masa lalu, nilai-nilai luhur, dan akar budaya yang harus terus dipelihara dan diwariskan.
Berdasarkan catatan dalam buku kuno Datken Kalantan Sangan, Datu Kartamina merupakan keturunan dari Raja Gagalang yang berkuasa di wilayah Kelua.
![]()
Dia menerima ajaran Islam langsung dari Ratu Anum Kasuma Yuda, putra Sultan Sepuh atau Pangeran Tamjidillah I (1734-1759) Banjar sekaligus Mangkubumi Kesultanan Banjar.
Berkat perjuangannya, Datu Kartamina dikenal sebagai salah satu pelopor penyebaran agama Islam di Kelua, Tabalong, dan daerah sekitarnya.
Namun, namanya tak hanya tercatat dalam sejarah dakwah. Di tengah masyarakat, Datu Kartamina juga melekat dalam berbagai kisah tentang kesaktian dan kedekatannya dengan alam, khususnya sungai.
Datu Kartamina dijuluki sebagai “Datu Buaya”, karena dipercaya memiliki kemampuan berubah menjadi buaya kuning, yang makhluk yang dianggap sebagai penunggu sungai.
Dalam cerita rakyat, dia juga dikenal bersahabat erat dengan Datu Banyu Barau, sosok yang dianggap sebagai pelindung lingkungan Sungai Kalang.
Hingga kini, makam Datu Kartamina dipercaya berada di Desa Sungai Rukam 2, Kecamatan Pugaan.
Datu Abi hidup di masa setelah Datu Kartamina, sebagai keturunan sekaligus pewaris tanggung jawab untuk menjaga makam, sejarah, dan bahkan buku kuno yang memuat kisah sang leluhur.
Sama seperti Datu Kartamina, Datu Abi juga dihormati sebagai tokoh karismatik yang memiliki hubungan dengan dunia gaib dan penunggu sungai.
Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Lambung Mangkurat mengungkapkan, dalam upacara adat memberi makan buaya kuning sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan, nama Datu Kartamina, Datu Abi, dan Datu Ja’far wajib disebutkan secara berurutan.
Mereka dianggap sebagai poros utama dalam ritual tersebut, yang hadir untuk menerima sedekah dan doa dari anak cucunya.
Peran Ratu Anum Kasuma Yuda pun tak terlewatkan dalam kisah ini. Sebagai bangsawan dan pemimpin pemerintahan pada abad ke-18, ia tidak hanya berjasa mengislamkan Datu Kartamina dan penduduk Kelua, tetapi juga mempererat hubungan melalui ikatan keluarga.
![]()
Mangkubumi Kesultanan Banjar ini, menikahi saudara perempuan Datu Kartamina yang bergelar Galuh, gelar yang kemudian diwariskan turun-temurun di kalangan bangsawan Banjar.
Semua ini menjadi bukti nyata bahwa kisah ketiga tokoh legendaris dan nilai-nilai yang mereka bawa tak pernah pudar.
Mereka terus hidup dalam ingatan, tradisi, dan kehidupan masyarakat Tabalong dari generasi ke generasi.***
Diolah dari berbagai sumber

















