sbn-HISTORY, Sejarah panjang Kesultanan Banjar menyimpan lembaran kisah perebutan kekuasaan, intrik politik, serta dampak campur tangan bangsa asing yang kelak menjadi akar kuat semangat perlawanan rakyat Kalimantan Selatan.
SALAH satu bab paling dramatis dalam sejarah ini berpusat pada nasib Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah (Sultan Kuning), pewaris sah tahta yang terhalang berkuasa, namun jejak perjuangannya terus mengalir hingga ke masa kepemimpinan Pahlawan Nasional, Pangeran Antasari.
Dilahirkan sekitar tahun 1730, Muhammad Aliuddin Aminullah adalah putra tertua Sultan Hamidullah dan telah ditetapkan sebagai Putra Mahkota.
Nasibnya berubah drastis ketika ayahnya meninggal dunia secara mendadak pada tahun 1734.
Saat itu, usianya belum genap 18 tahun, sehingga belum memenuhi syarat adat untuk menaiki tahta.
Sesuai tradisi, adik mendiang Sultan Hamidullah, Mangkubumi Tamjidillah I atau yang dikenal sebagai Sultan Sepuh, diangkat menjadi Wali Sultan dengan janji akan menyerahkan kekuasaan saat keponakannya dewasa.
Namun, ambisi kekuasaan mengubah kesepakatan tersebut. Tamjidillah I berniat menjaga tahta tetap berada di garis keturunannya, dan strategi yang dia gunakan adalah menikahkan putrinya sendiri dengan Muhammad Aliuddin Aminullah.
Langkah ini berhasil meredam tuntutan hak sang menantu, sehingga Tamjidillah I resmi menjadi Sultan dan berkuasa selama 25 tahun, sementara Muhammad Aliuddin Aminullah hanya bertahan dalam gelar Putra Mahkota.
Dalam masa itu, nama Muhammad Aliuddin Aminullah tercatat dalam sejarah melalui penandatanganan Kontrak 18 Mei 1747 bersama Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dengan gelar Ratu Anom.
![]()
Perjanjian ini menjadi dasar hubungan dagang dan politik kedua pihak hingga tahun 1787.
Ketegangan kembali memuncak saat Aminullah merasa haknya dirampas dan dikendalikan ketat oleh pamannya.
Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah pun mencari dukungan hingga ke Batavia, yang berujung pada perjanjian 27 Oktober 1756 di Benteng Tatas Banjarmasin.
Di situ, VOC mengakui hak kekuasaannya namun dengan harga mahal: Kesultanan Banjar harus menjadi protektorat Belanda dan membayar upeti berupa lada, intan, serta uang tunai.
Merasa dukungan Belanda tidak dapat diandalkan, pada awal 1757 ia melarikan diri dari ibu kota Kayu Tangi (Martapura) menuju Tabanio, pelabuhan dagang yang dijuluki pedagang Barat sebagai pasar gelap terbesar di Kalimantan.
![]()
Di sana, Aminullah bergabung dengan kelompok pelaut dan membangun kekuatan militer.
Dalam dua hingga tiga tahun, dia memimpin armada yang cukup kuat untuk menjadi ancaman nyata bagi Pangeran Tamjidillah I, bahkan mampu menahan serangan gabungan pasukan kerajaan dan VOC.
Puncak konflik terjadi pada 3 Agustus, saat Muhammad Aliuddin Aminullah memasuki ibu kota dikawal pasukannya.
Demi menghindari pertumpahan darah keluarga, Tamjidillah I bersedia mundur dan menyerahkan kekuasaan.
Namun, sebelum penyerahan itu, Tamjidillah I mengucapkan kata-kata yang bernada ramalan kelam:
“Biarlah tahta direbut Muhammad Aliuddin Aminullah (Ratu Anom), sebentar lagi dia akan mati.”
Ucapan itu seolah menjadi kenyataan. Muhammad Aliuddin Aminullah hanya memerintah selama sekitar satu tahun 166 hari, hingga meninggal dunia secara misterius pada 16 Januari 1761.
Banyak sejarawan meyakini dia diracun atas perintah pamannya sendiri. Catatan sejarah juga mengoreksi kekeliruan literatur yang menyebut tahun kematiannya 1780, padahal ia telah tiada jauh sebelum tahun tersebut.
Pasca kepergiannya, drama kekuasaan berlanjut. Tamjidillah I kembali berkuasa dan menunjuk putranya, Pangeran Nata Dilaga (Sultan Sulaiman/Tahmidullah II), sebagai penerus.
Mereka pun mulai menyingkirkan keturunan Aminullah, termasuk Pangeran Abdullah yang diracun tahun 1776, serta Pangeran Rahmad yang tewas dibunuh di Pelaihari.
Hanya tersisa Pangeran Amir, putra ketiga Aminullah yang terus berjuang menuntut hak waris ayahnya.
Pangeran Amir sempat berlindung ke wilayah Batu Licin di bawah perlindungan Ratu Intan I, penguasa wilayah Batu Licin dan Cantung (kini wilayah Tanah Bumbu) yang merupakan kerabat dekatnya.
Ratu Intan I sendiri memiliki silsilah panjang dari raja-raja terdahulu dan bersuamikan Sultan Dipati Anom Alamsyah dari Kesultanan Pasir
(1642-1645)
Ratu Intan I adalah putri Pangeran Mangu (Ratu Mas) Bin Pangeran Dipati Tuha (Raja Tanah Bumbu) Bin Sultan Inayatullah (Ratu Agung) Martapura 1642-1645.
Sultan Inayatullah (Martapura)adalah Putera Sultan Mustainbillah ( martapura) atau penembahan Marhum bin Sultan Hidayatullah I (Kuin Banjarmasin) bin Sultan Rahmatullah (Kuin Banjarmasin) bin Sultan Suriansyah (Kuin Banjarmasin)
Dari sana, Amir menggalang kekuatan hingga ke Pasir dan meminta bantuan militer dari kerabatnya yang berdarah Bugis.
![]()
Pangeran Amir pun kembali mendarat di Tabanio dan memicu pertempuran besar melawan kekuasaan Tamjidillah I. Konflik ini menjadi salah satu perselisihan internal paling rumit sebelum meletusnya Perang Banjar.
Sayangnya, kekuatan Amir tidak seimbang. Berkat dukungan militer penuh Belanda kepada pihak Tamjidillah I, perlawanan Amir dipatahkan. Pada tahun 1787, ia ditangkap dan diasingkan jauh ke Ceylon (kini Sri Lanka).
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 14 Mei tahun 1787, bangsawan Kerajaan Banjar sekaligus kakek Pangeran Antasari, Pangeran Amir bin Sultan Kuning, ditangkap tentara Belanda setelah melakukan perlawanan bersama 3.000 pengikutnya.
![]()
Meski gagal merebut takhta, perjuangan Pangeran Amir tidak berakhir sia-sia. Darah dan semangat melawan ketidakadilan serta campur tangan asing itu diwariskan kepada cucunya, Pangeran Masuhot, dan kemudian turun kepada Pahlawan Nasional Pangeran Antasari.
Berangkat dari dendam sejarah atas nasib kakek buyutnya, Muhammad Aliuddin Aminullah, serta kesewenang-wenangan kolonial Belanda, Pangeran Antasari bangkit memimpin perlawanan besar sejak tahun 1862.
Bersama rakyat Banjar dan saudara sebangsa suku Dayak, dia melancarkan serangan pertama ke tambang batu bara Orange Pengaron pada 25 April 1859, yang menandai dimulainya Perang Banjar yang berkobar hingga tahun 1905.
Sebagai ahli strategi andalan, Antasari membangun pertahanan di pedalaman dan sempat menguasai wilayah luas dari Martapura hingga Tabalong.
Kini, sejarah mencatat bahwa kisah Muhammad Aliuddin Aminullah dan keturunannya bukan sekadar catatan kekalahan politik.
Melalui silsilah panjang itu, terbukti bahwa benih perjuangan mempertahankan kedaulatan di Kalimantan Selatan telah tumbuh jauh sebelum abad ke-20, mengalir dari generasi ke generasi hingga meletus menjadi api perlawanan yang dipimpin Pangeran Antasari.***
berbagai sumber


















