sbn-BORNEO, Di balik gegap gempita semangat Dwikora tahun 1960-an, tersimpan kisah heroik pasukan elit RPKAD (kini Kopassus) yang nyaris tenggelam dalam kabut sejarah.

DIPIMPIN Mayor Benny Moerdani, mereka berhadapan langsung dengan pasukan khusus Inggris SAS, unit legendaris yang berpengalaman di seluruh dunia.


Misi dimulai dengan perintah rahasia dari Letjen Ahmad Yani: menyusup ke perbatasan Kalimantan Utara, menyamar sebagai pejuang lokal, dan mengacaukan penyusupan pasukan asing.

Tanpa seragam resmi, tanpa identitas jelas, tim kecil ini menembus hutan lebat, rawa, dan sungai.

Pertempuran meletus di banyak titik, dari Long Jawai hingga Kampung Sakilkilo, di mana taktik sergap-lari RPKAD membuat pasukan Gurkha yang unggul peralatan kehilangan jejak.

Di Plaman Mapu, serangan fajar memanfaatkan kabut tebal menghantam pos pertahanan Inggris hingga luluh lantak.

Inggris bahkan menghargai kepala Benny Moerdani dengan ribuan dolar, namun tak pernah berhasil menjangkaunya.

Di saat yang sama, perubahan politik di Jakarta mengubah arah perjuangan. Benny ditarik dari garis depan untuk bergabung dengan Operasi Khusus (Opsus) di bawah Letkol Ali Moertopo.

Tugas baru: merintis perdamaian rahasia. Dari Bangkok, ia membuka saluran komunikasi tertutup dengan pihak Malaysia, langkah berisiko tinggi yang bisa dianggap pengkhianatan jika bocor.

Usaha ini membuahkan hasil: Perjanjian Bangkok ditandatangani 11 Agustus 1966, mengakhiri konflik yang merugikan kedua belah pihak.

Hutan Kalimantan tetap menyimpan jejak pertempuran itu, tempat di mana keberanian, kecerdikan, dan akhirnya kearifan untuk berdamai menjadi kemenangan terbesar yang dicapai anak bangsa.***