suara banua news -BANJAR, Jeruk Madang, buah lokal asli Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tengah menjadi sorotan.
RASA manis dan segarnya yang tak kalah dengan jeruk impor atau varietas lokal lainnya seperti jeruk Pontianak, menjadikan jeruk ini primadona bagi pencinta buah kaya vitamin C.
Petani di Desa Lok Baintan Luar dan Lok Baintan Dalam, Kecamatan Sungai Tabuk, saat ini sedang menikmati masa panen.
Acil Inah, seorang petani di Pantai Surung, Desa Lok Baintan Luar, mengungkapkan bahwa hasil panen jeruk Madang-nya telah dipesan pembeli, sehingga tidak perlu dipasarkan di pasar tradisional atau Pasar Terapung.
Namun, Acil Inah juga menyoroti penggunaan bibit lama yang masih digunakan petani, sehingga produktivitas belum maksimal.
Ia berharap adanya upaya peremajaan pohon jeruk dan pembinaan dari pemerintah Kabupaten Banjar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.
Hal ini penting mengingat peran jeruk Madang dalam keberlangsungan Pasar Terapung.
H. Sahlianor, petani jeruk Madang sekaligus Pambakal Desa Lok Baintan Dalam, menambahkan bahwa kesuburan tanah sangat berpengaruh pada kualitas buah.
Meskipun ukurannya mungkin tidak sebesar jeruk dari daerah lain, jeruk Madang dari Lok Baintan Dalam tetap manis dan berair berkat kondisi tanah yang cocok dan teknik budidaya yang baik.
Ia menjual jeruk Madangnya seharga Rp 140.000 per 100 buah, dengan masa tunggu panen sekitar satu bulan untuk memastikan rasa tetap manis.
Produksi tahun ini pun meningkat signifikan, dengan 85 dari 100 pohon jeruk dewasa berbuah, dibandingkan hanya 50 pohon pada tahun sebelumnya.
![]()
Jeruk Madang sendiri berasal dari Sungai Madang, Desa Gudang Hirang, yang berbatasan dengan Desa Lok Baintan Dalam.
Daerah ini menjadi sentra penghasil jeruk lokal berkualitas tinggi di Kalimantan Selatan, sebuah bukti potensi pertanian lokal yang perlu terus dikembangkan dan didukung.***
ms sbn


















