sbn- BANJARMASIN, Nama Syekh Mufti Haji Muhammad Amin Al Banjari, atau yang lebih dikenal luas dengan sebutan Datu Amin Banua Anyar, tercatat dalam sejarah sebagai sosok ulama sekaligus pejuang yang memiliki peran besar bagi masyarakat dan Kerajaan Banjar.
BERASAL dari garis keturunan ulama dan pejabat tinggi kerajaan, beliau adalah cucu dari Qadhi H. M. Sa’id, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan Sultan. .
Melalui jalur ibunya, beliau juga masih memiliki ikatan kekerabatan erat dengan keluarga besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, tokoh ulama besar yang dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan.
Dikenal cerdas dan mendalami ilmu agama secara mendalam, Datu Amin menempuh pendidikan baik di daerah asalnya maupun di Tanah Suci Mekkah.
Beliau menguasai berbagai bidang ilmu, terutama yang berkaitan dengan Al-Qur’an, dan memiliki keistimewaan mampu menyatukan ajaran syariat dan hakikat dalam pemahaman dan pengamalan.
Kemampuan ini membuatnya mampu memberikan keputusan hukum yang tepat, sehingga masyarakat maupun pihak kerajaan kerap meminta pandangan dan nasihatnya dalam urusan keagamaan.
Di masa mudanya, selain rajin belajar, Datu Amin memiliki hobi menjelajahi hutan untuk merenungi kebesaran ciptaan Tuhan.
Sambil melakukan tadabur alam, beliau juga kerap berburu, namun hasilnya tidak dinikmati sendiri, semua dibagikan dan dijadikan hidangan bagi para murid yang datang belajar kepadanya. Sifat dermawan ini sudah tampak sejak beliau masih muda.
Pada tahun 1294 H atau sekitar tahun 1876 M, Datu Amin diangkat menjadi Mufti Tua di wilayah Kuin, sebuah jabatan yang diembannya selama kurang lebih 20 tahun.
Masa pengabdiannya ini berlangsung di tengah suasana yang sulit, saat Perang Banjar berkecamuk antara tahun 1859 hingga 1905.
Di tengah situasi tersebut, beliau tidak hanya mengurus urusan agama, tetapi juga menunjukkan semangat cinta tanah air yang tinggi dengan berani menentang penjajah Belanda.
Beliau dikenal tegas dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan, tanpa takut menghadapi risiko apa pun.
Suatu peristiwa penting dalam hidupnya adalah perpindahan tempat tinggal. Awalnya beliau bermukim di kawasan Sungai Parit, namun karena perselisihan dengan pihak penjajah dan keinginan untuk lebih fokus dalam mengajar dan berdakwah, beliau memutuskan untuk hijrah.
Dalam perjalanan menggunakan perahu menyusuri aliran sungai, beliau kerap berhenti di setiap tepian untuk mencium tanahnya.
Hingga akhirnya tiba di suatu tempat yang tanahnya mengeluarkan bau harum, di sanalah beliau memutuskan untuk menetap.
Wilayah itu kemudian dikenal dengan nama Banua Anyar, dan di sana beliau mendirikan mushalla sebagai pusat kegiatan keagamaan dan dakwah.
Sebagai orang yang dekat dengan Tuhan, masyarakat meyakini bahwa Datu Amin diberi keistimewaan di luar kemampuan manusia biasa.
Diceritakan bahwa beliau dapat bergerak dengan sangat cepat, bahkan mampu melompati tebing dan jurang dalam waktu singkat sehingga seolah-olah berpindah tempat seketika.
Dalam peristiwa lain, ketika pasukan Belanda datang untuk menangkapnya dan menggeledah rumah, beliau tidak terlihat oleh mereka katanya beliau berada di dalam rumah dan dapat melihat semua kejadian itu, namun tetap tidak diketahui keberadaannya oleh para tentara.
![]()
Menjelang akhir hayatnya, Datu Amin menunjukkan kearifan dalam meneruskan perjuangan dan amanah yang diembannya.
Beliau berwasiat agar jabatan Mufti di Banjarmasin dipegang oleh Syekh Jamaluddin Al-Banjari, yang kemudian dikenal sebagai Syekh Surgi Mufti Sungai Jingah.
Wasiat itu pun terwujud pada tahun 1314 H atau 1896 M, ketika Syekh Jamaluddin resmi dilantik dan melanjutkan peran serta perjuangan yang telah dibangun oleh Datu Amin Banua Anyar.**


















