SUARA BANUS NEWS-BANJAR-JERUK Madang, sebutan itulah yang keluar manakala orang mencicipi jeruk lokal, asli Sungai Tabuk ini. Rasanya tak kalah dengan jeruk impor atau varietas lokal seperti jeruk Pontianak. Bagi Anda yang penyuka buah pengandung vitamin C ini, tentu sepakat jika jeruk Madang merupakan varietas unggulan Kalimantan Selatan dengan rasanya yang manis, segar dan kandungan airnya lebih banyak.

MENURUT Acil Inah, warga Pantai Surung Desa Lok Baintan Luar Sungai Tabuk Kabupaten Banjar ini, bahwa saat ini wilayahnya panen jeruk.


” Saat ini petani disini mulai panen jeruk. Orang bilangnya Jeruk Madang,” ucap Acil Inah menerangkan sambil menghitung jumlah jeruk yang dipanennya.

Dia juga menjelaskan, hasil produksi buah jeruknya sudah dipesan oleh pembeli. Sehingga tidak perlu membawa ke pasar.

Oleh pembeli buah jeruk tersebut kemudian dijual lagi ke pedagang lokal yang ada di pasar tradisional atau Pasar Terapung.

Budidaya jeruk lokal yang ada di wilayahnya, masih menggunakan bibit lama, sehingga belum menghasilkan produk jeruk yang maksimal.

” Saat ini belum ada upaya untuk melakukan upaya peremajaan. Kalau ada pohon jeruk yang mati baru diganti dengan bibit baru,” ungkapnya, Kamis (18/7/2019).

Dirinya juga menyebutkan tidak ada upaya pemerintah kabupaten Banjar, dalam hal ini instansi terkait melakukan pembinaan kepada para petani jeruk. Mereka berjalan masing masing.

Semestinya perlu ada upaya pembinaan dari pemkab, mengingat hasil buah lokal ada keterkaitannya dengan kelangsungan Pasar Terapung. Karena yang diperdagangkan itu banyak komoditas buah lokal.

Sementara itu menurut penjelasan H.Sahlianor petani Jeruk Madang sekaligus Pambakal Desa Lok Baintan Dalam Kecamatan Sungai Tabuk ini, proses pembuahan jeruk Madang sangat tergantung dengan kondisi tanahnya.

Wilayah Lok Baintan Dalam dan sekitarnya, mungkin sangat cocok untuk jeruk lokal tersebut.“Jangan salah buah jeruk dengan bibit yang sama dihasilkan di luar daerah tidak sama.

H. Sahlianor menegaskan biar tidak terlalu besar, buah jeruk yang dihasilkan dari kebun kebun petani di wilayah sini rasanya tetap manis dan kandungan airnya juga banyak.

“Sekali lagi, semuanya dipengaruhi pada jenis tanahnya, ditambah sistem peneliharaan budidaya jeruk yang baik, maka produksi buah yang dihasilkan pun akan bagus dan banyak,” tutur H.Sahlianor.

Buah jeruk yang dihasilkan dari kebunnya dijual dengan harga Rp.140 ribu per 100 biji. Saat dirinya masih menunggu 1 bulan untuk di panen, biar kualitas rasanya tetap manis.

Tahun ini produksi buah jeruk dari kebunnya lebih baik dari tahun lalu. Artinya dari 100 pohon jeruk dewasa, 85 pohon menghasilkan buah. Kalau tahun lahun hanya 50 pohon saja yang berbuah, cerita H. Sahlianor.

Lalu dari daerah mana yang menjadi penghasil jeruk unggulan Kalsel ini? Jeruk Madang berasal dari Sungai Madang masuk dalam wilayah Desa Gudang Hirang dan berbatasan dengan Desa Lok Baintan Dalam Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar.

Semua sentra penghasil jeruk lokal berkualitas ini berada di Madang atau Sungai Madang itu.***(ms/bs)