sbn-MARABAHAN, Fenomena ikan sekarat yang melanda Sungai Barito sepanjang puluhan kilometer telah memunculkan kekhawatiran besar masyarakat terhadap keamanan air minum PDAM Barito Kuala (Batola).

KEKHAWATIRAN ini tidak hanya bersumber dari rumor, melainkan dari bukti nyata yang terlihat langsung di lapangan.


Di wilayah Kuripan hingga Marabahan, banyak ikan ditemukan mati di perairan sungai. Kondisi serupa juga terjadi pada keramba apung di Marabahan dan Bakumpai akibat fenomena danum bangai, dengan total kerugian mencapai Rp3,287 miliar akibat kematian sekitar 93.930 kilogram ikan nila.

Antropolog ekologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, menjelaskan bahwa visual kondisi sungai tersebut menjadi dasar utama persepsi masyarakat terhadap air minum yang mereka konsumsi sehari-hari.

“Masyarakat membentuk pandangannya dari apa yang mereka lihat di lapangan, sehingga penjelasan teknis saja tidak cukup untuk meyakinkan mereka,” jelasnya.

Meski PDAM Batola telah menjalankan pemeriksaan di laboratorium internal, Nasrullah menyatakan bahwa hasilnya masih berpotensi dianggap tidak objektif oleh publik.

“Untuk membangun kepercayaan, diperlukan pemeriksaan independen dari pihak luar seperti perguruan tinggi, BPOM, atau Dinas Kesehatan,” jelasnya.

Selain uji laboratorium eksternal, ia juga mengusulkan aksi simbolis berupa acara minum air PDAM secara terbuka yang diikuti oleh pejabat daerah, Forkopimda, dan pimpinan PDAM.

“Contohnya seperti yang dilakukan Presiden Jokowi saat vaksinasi Covid-19 dulu tindakan nyata seperti ini akan memberikan pesan yang kuat kepada masyarakat,” katanya.

Tak hanya itu, Nasrullah menyarankan untuk memberikan pembebasan iuran PDAM selama satu bulan sebagai bentuk kebijakan sosial yang menunjukkan komitmen pihak PDAM untuk memenuhi harapan masyarakat.

“Hal ini diharapkan dapat memperbaiki citra PDAM dan mengembalikan kepercayaan yang telah goyah,” lanjutnya. ***
ahim sbn