sbn-BANJARMASIN, Kawasan Pemurus Dalam di Banjarmasin Selatan kembali menghadapi masalah lama yang mengganggu aktivitas sehari-hari penduduknya.
SETIAP pagi dan sore hari, arus lalu lintas di persimpangan Jalan AMD XII dan Jalan Serial Pumurus Dalam macet parah, membuat ribuan pengguna jalan terpaksa bersabar dalam antrian kendaraan yang panjang.
Siswa-siswa yang harus sampai di sekolah tepat waktu, pekerja yang mengejar jadwal, dan warga yang memiliki aktivitas masing-masing terpaksa terjebak.
Ruas jalan yang tidak sesuai dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas di kawasan menjadi penyebab utama masalah ini.
“Sudah bertahun-tahun begini. Tempat ini padat sekali – ada sekolah, kantor, banyak usaha kecil. Tapi jalan tetap sempit,” ujar Tuti, seorang pengguna jalan di sekitar lokasi kemacetan.
Tak hanya kemacetan, banjir juga menjadi momok bagi warga Pemurus Dalam.
Hampir setiap tahun, genangan air setinggi 20 hingga 30 cm merendam sebagian besar kawasan.
Meskipun tetap beraktivitas, warga harus berhati-hati saat berjalan atau berkendara melewati jalan yang tergenang.
Bardi , seorang kurir pengantar paketanyang sering melintas di kawasan ini, mengaku frustasi dengan kondisi yang tak kunjung membaik.
“Macet setiap hari, kadang sampai memakan waktu lama. Kalau hujan lagi, tambah parah karena banjir bikin jalan lebih sempit,” katanya.
Warga juga mengungkapkan kekhawatiran tentang kurangnya perhatian terhadap infrastruktur di daerah mereka.
Dibandingkan dengan kawasan lain di Banjarmasin Selatan, perkembangan jalan dan fasilitas pendukung di Pemurus Dalam dinilai jauh tertinggal. Bahkan, di beberapa titik penting, warga harus secara sukarela mengatur lalu lintas karena tidak adanya petugas atau rambu yang memadai.
![]()
“Meskipun ada jalan alternatif, tapi tidak praktis untuk semua orang karena tempat kerja dan sekolah kita ada di sini. Kami berharap pemerintah bisa segera mencari solusi yang tuntas,” ungkap Kani, salah satu warga.
Masalah kemacetan dan banjir yang berlangsung lama ini dinilai tidak hanya mempengaruhi mobilitas, tetapi juga produktivitas dan kualitas hidup warga setempat.***


















