sbn – NASIONAl, Sejarah perjalanan umat Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari figur ulama besar nan visioner, K.H. Hasan Basri. Lahir di Muara Teweh, Kalimantan Tengah pada 10 Agustus 1920, beliau menorehkan jejak pengabdian yang mendalam dalam ranah agama, pendidikan, politik, hingga ekonomi bangsa.
DARI seorang anak yatim di pedalaman Borneo, K.H. Hasan Basri menjelma menjadi tokoh nasional yang pemikiran dan karya-karyanya melampaui zamannya.
Dari Pendidikan Dini Hingga Inspirasi Buya Hamka
Kecerdasan dan kedisiplinan K.H. Hasan Basri sudah terlihat sejak usia dini, meskipun beliau harus kehilangan sang ayah pada usia tiga tahun.
Pendidikan awalnya di Diniyah Awaliyah Islamiyah (DAI) menunjukkan bakatnya yang luar biasa, bahkan sempat dipercaya membantu mengajar adik kelasnya saat masih duduk di bangku kelas tiga SD.
Pertemuan langsung dengan Buya Hamka di Banjarmasin menjadi titik tolak inspirasinya untuk menjadi seorang ulama besar.
Tekad ini kemudian membawanya merantau ke Yogyakarta untuk menimba ilmu di Sekolah Zu’ama Muhammadiyah.
Pengabdian di Jalur Pendidikan dan Politik
Di usia 21 tahun, K.H. Hasan Basri menikah dengan Nurhani. Pasangan muda ini memilih jalan pengabdian dengan mendirikan dan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Marabahan, Kalimantan Selatan.
Semangatnya untuk berkontribusi bagi bangsa tak berhenti di situ. Beliau sempat berkiprah di panggung politik nasional sebagai anggota DPR dari Partai Masyumi pada tahun 1955.
Namun, ketika partainya dibubarkan pada tahun 1960, K.H. Hasan Basri menunjukkan integritasnya dengan kembali sepenuhnya ke tengah masyarakat, mengawal moral umat melalui dakwah, dan menjabat sebagai Imam Masjid Al-Azhar, Jakarta.
Beliau membuktikan bahwa pengabdian bisa dilakukan melalui berbagai jalur, asalkan tujuannya adalah kemaslahatan bersama.
Puncak Kepemimpinan di MUI dan Lahirnya Bank Muamalat
Puncak pengabdian K.H. Hasan Basri terlihat jelas saat beliau dipercaya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ketiga.
Di bawah kepemimpinannya, MUI berkembang menjadi lembaga yang sangat responsif terhadap kebutuhan umat.
Salah satu warisan monumental beliau adalah prakarsa pendirian Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada tahun 1991.
Melalui seminar “Bank Tanpa Bunga”, beliau berhasil mengumpulkan para pakar ekonomi, pejabat, dan ulama untuk mewujudkan solusi keuangan syariah yang bebas riba di Indonesia, menjadi cikal bakal perbankan syariah di tanah air.
Sosok Inklusif dan Teladan Sepanjang Masa
K.H. Hasan Basri dikenal sebagai pemimpin yang sangat inklusif dan mampu merangkul berbagai kalangan.
Beliau berhasil menjembatani aspirasi umat dengan kebijakan pemerintah, menjadikannya figur yang sangat dihormati.
Keberhasilannya dalam mendirikan bank syariah pertama di Indonesia menjadi bukti nyata integrasi nilai-nilai agama ke dalam sistem ekonomi modern demi kesejahteraan rakyat.
Atas jasa-jasanya, negara menganugerahinya Bintang Mahaputera Utama, dan namanya kini diabadikan sebagai jembatan megah di kampung halamannya, Muara Teweh.
Hingga akhir hayatnya pada 8 November 1998, K.H. Hasan Basri tetap konsisten dalam jalur dakwah dan pelayanan.
![]()
Kisahnya adalah teladan universal tentang bagaimana ilmu, keberanian, dan kemandirian dapat mengantarkan seorang anak yatim dari pedalaman menjadi tokoh nasional yang mengubah wajah ekonomi bangsa.
Warisan pemikiran dan institusi yang beliau bangun terus memberikan manfaat bagi jutaan masyarakat Indonesia hingga saat ini.***


















