suara banua news – EDUKASI, Siapa yang tidak kenal orangutan? Primata ikonik Indonesia ini sering disebut “orangutan,” padahal istilah tersebut merupakan serapan dari bahasa Inggris (“orang-utan”), sebuah kesalahan yang telah kita adopsi tanpa disadari.

BENTUK baku dalam Bahasa Indonesia adalah “orang utan,” dua kata yang terpisah. Ironisnya, kita lebih sering menggunakan istilah asing ini, mencerminkan kecenderungan untuk merasa rendah diri terhadap bahasa kita sendiri.


Meskipun pemahaman tentang evolusi dan kekerabatan manusia dengan kera populer di era penjajahan, penelitian terbaru menunjukkan istilah “orang utan” telah ada jauh sebelum itu, bahkan tercatat dalam kitab-kitab Jawa kuno, jauh sebelum masa Majapahit.

Namun, nama yang lebih umum digunakan di Nusantara dulunya adalah “Mawas,” dengan variasi seperti “Maias” (Kalimantan), “Maos” (Batak), dan “Maweh” (Aceh).

Prof. Uli Kozok mencatat penggunaan “Mawas” untuk menyebut Pongo spp. di Langkat, Sumatera Utara, hingga tahun 1980-an.

Pergeseran penggunaan istilah dari “Mawas” ke “orangutan” menunjukkan bagaimana kita seringkali kehilangan identitas budaya dan bahasa.

Sebagai bangsa Indonesia, kita perlu lebih menghargai dan melestarikan istilah lokal yang lebih otentik, seperti “orang utan” dan “Mawas,” sebagai bagian dari kekayaan budaya kita.

Mari kita bangga menggunakan bahasa Indonesia yang kaya dan lestarikan warisan leluhur kita.***