sbn- MARTAPURA, Mencerdaskan bangsa melalui literasi adalah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak terlihat dalam hitungan bulan, namun akan menentukan arah bangsa dalam beberapa dekade ke depan.
SEJARAH membuktikan: peradaban besar, dari Alexandria hingga era Renaisans, selalu menempatkan buku dan perpustakaan sebagai jantung perkembangannya.
Jika kita ingin daerah maju dan keluar dari jebakan pendapatan menengah, peningkatan kualitas SDM melalui literasi adalah harga mati.
Masyarakat yang literat tidak mudah terprovokasi hoaks, mampu menyaring informasi secara objektif, dan siap bersaing di kancah global.
Gerakan “Seibu Pertiwi: Sehari Bersama Buku” bukan sekadar seremonial, dia adalah pengingat bahwa mencerdaskan bangsa adalah tanggung jawab kolektif.
Pemerintah, sekolah, pegiat literasi, hingga keluarga harus bersinergi membangun ekosistem membaca yang sehat.
Setiap halaman buku yang dibuka, sejatinya adalah satu jendela masa depan Indonesia yang lebih cerah.
![]()
Di era digital, informasi memang mengalir deras, namun apakah kedalaman pengetahuan ikut meningkat?
Seringkali kita hanya menyerap permukaan informasi, namun rapuh dalam pemahaman mendalam.
Di sinilah buku tetap relevan: buku menawarkan fokus, kedalaman berpikir, dan ruang merenung yang sulit didapat dari linimasa media sosial.
Perpustakaan pun harus berubah, bukan lagi gudang berdebu, melainkan ruang hidup, pusat inkubasi gagasan: tempat anak desa bermimpi ke luar angkasa, petani menemukan teknik pertanian lebih baik, dan pemuda merajut narasi perubahan.
![]()
“Seibu Pertiwi” di Kabupaten Banjar: literasi dirayakan bersama masyarakat
Dalam semangat itulah, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Banjar menggelar kegiatan bertajuk “Seibu Pertiwi: Sehari Bersama Buku, Perpustakaan Inspiratif Mengabdi untuk Negeri” di Aula kantornya, Selasa (18/8/2026).
Acara ini memperingati Hari Jadi ke-76 Kabupaten Banjar sekaligus HUT ke-81 Republik Indonesia, dan dikemas inklusif, melibatkan pelajar, santri Pondok Pesantren Darussalam, hingga masyarakat luas.
Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Banjar, Rakhmat Dhany, mengapresiasi langkah Dispersip yang menyasar anak sekolah, masa keemasan untuk mengasah intelektualitas.
Apresiasi juga diberikan kepada lomba resensi buku: “Mekanisme ini memaksa peserta membaca, memahami, lalu mengulas buku, cara efektif menumbuhkan semangat literasi,” jelasnya.
![]()
Kepala Dispersip Banjar, Kencana Wati, menegaskan bahwa literasi adalah milik semua kalangan.
Rangkaian acara dikemas meriah dan edukatif: mulai dari kuis literasi, kelas literasi digital, workshop kerajinan tangan (Jemari Kreasi), talkshow bedah buku, hingga penyerahan hadiah lomba resensi buku bagi siswa SMP/SMA serta apresiasi bagi 10 pemustaka teraktif sepanjang tahun.
Membangun budaya literasi adalah kerja peradaban yang panjang, tidak bisa sendirian, harus kita lakukan bersama.
Mari mulai dari langkah kecil: luangkan waktu membaca setiap hari, dukung perpustakaan di lingkungan kita, dan tularkan semangat membaca kepada generasi muda.
Karena ketika kita membuka buku, kita sedang membuka pintu masa depan bangsa yang lebih cerdas, maju, dan berbudaya, ajak Kencana Wati dan Rakhmat Dhany. ***


















