sbn-SEJARAH, Makna namanya adalah “wanita yang selalu berseri-seri”. Itulah Siti Fatimah Az-Zahra Radhiyallahu Anha, putri bungsu sekaligus putri kesayangan Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah binti Khuwailid RA.

KELAHIRANNYA yang jatuh pada bulan Jumadil Akhir menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang senantiasa dikenang umat Islam hingga hari ini.


Berdasarkan buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah karya Ida Fitri Shohibah, Siti Fatimah lahir di kota Makkah tepat pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir.

Kelahirannya diperkirakan terjadi pada tahun 610 Masehi atau sekitar lima tahun sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul, serta lima tahun sebelum diturunkannya wahyu pertama pada tahun 615 Masehi.

Kelahiran putri ini disambut dengan kebahagiaan yang mendalam oleh Rasulullah SAW.

Beliau memberinya nama Fatimah dengan sebutan utama Az-Zahra, serta kuniyah atau sebutan kehormatan Ummu Abiha yang berarti “Ibu bagi Bapaknya”.

Dalam buku The Great Sahaba karya Rizem Aizid, disebutkan bahwa Siti Fatimah juga memiliki banyak nama pujian lain, di antaranya Shiddiqah, Mubarakah, Radhiyah, Mardhiyah, Thahirah, Zakiyah, dan Muhaddatsah.

Secara keseluruhan, beliau memiliki lebih dari 30 sebutan yang semuanya menggambarkan kemuliaan sifat-sifat dirinya.

Beberapa sebutan tersebut antara lain Sayyidah an-Nisa al-Alamain (Pemimpin seluruh wanita di dunia), Batul, Shabirah, dan Muthahharah.

Sejak kecil, Siti Fatimah tumbuh dan dididik dalam lingkungan keluarga yang sangat kuat dalam keimanan dan ketaatan kepada ajaran Islam.

Namun ketika beliau masih muda, harus menerima ujian berat dengan kepergian ibunda tercinta, Siti Khadijah, pada tahun kelima sesudah hijrah.

Sejak saat itu, beliau hidup sepenuhnya dalam asuhan Rasulullah SAW dan mengambil alih peran untuk menemani, menenangkan, dan membantu perjuangan ayahnya dalam menyebarkan agama Islam.

Inilah alasan mengapa beliau disebut sebagai “Ibu bagi Bapaknya”, bahkan dicatat sebagai salah satu pendamping setia Rasulullah yang kedudukannya istimewa, bersama dengan Anas bin Malik dan Hudzaifah bin al-Yaman RA.

Kasih sayang Rasulullah kepada putrinya ini tercatat dalam berbagai riwayat. Bahkan diceritakan bahwa rasa sayang beliau kepada Siti Fatimah melebihi rasa sayang kepada siapapun juga.

Setiap kali hendak berangkat bepergian, orang pertama yang ditemui dan diberi salam adalah Siti Fatimah.

Siti Aisyah RA pernah bersaksi tentang kemuliaan akhlak beliau, dengan berkata:

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang cara berbicara dan perilakunya paling mirip dengan Rasulullah selain Fatimah.

Setiap kali beliau datang menemui Rasulullah, beliau akan berdiri menyambutnya, memeluknya, dan menyambutnya dengan penuh kehangatan.”

Kehidupan Siti Fatimah baru terpisah dari ayahnya setelah beliau dinikahkan dengan Ali bin Abi Thalib RA pada tahun kedua sesudah hijrah.

Dari pernikahan yang diberkahi ini, mereka dikaruniai empat orang anak, yaitu Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kultsum.

Sementara seorang anak lainnya yang bernama Muhsin meninggal dunia saat masih berusia kanak-kanak.***