suara banua newa – MEKARSARI, 7000 buah nanas, membentuk tower setinggi 8,5 meter menjadi rebutan ratusan orang dalam Festival buah Nenas di Lapangan Hardoko Anwar Mekarsari, sebuah kecamatan di Kabupaten Batola.
FESTIVAL nenas ini digelar untuk ketiga kalinya dilaksanakan. Festival Nenas pertama tahun 2018 kemudian tahun 2019 dan sekitar 3.800 dan 4000 Nenas Tamban dibentuk menjadi tumpeng setinggi sekitar 4 meter.
Festival ini diadakan pada Minggu, 19 November 2023, dan dipadati ratusan warga yang datang dari berbagai daerah di Kabupaten Batola, bahkan ada yang datang dari Banjarmasin.
Seperti festival Nenas pertama, tower nanas yang disusun selama sekitar sepuluh hari oleh puluhan orang ini hancur dalam sepersekian menit.
Ratusan warga berebut mengambil buah nenas, usai festival dibuka Pejabat Bupati Batola Mujiyat.
Selayaknya panjat pinang, puluhan orang berebut mencapai posisi tertinggi untuk mengambil buah Nenas.
Kemudian nanas-nanas itu dilempar kepada ratusan warga yang berdesakan menunggu di bawah.
Antusiasme warga sendiri sudah terasa beberapa jam sebelum festival dimulai. Seperti gerak jalan santai yang ditargetkan 1.000 orang, justru diikuti sekitar 3.000 orang.
Pelaksana harian Camat Mekarsari, Yan Ferdian, mengatakan, selama beberapa kali digelar, pada tahun ini lebih besar yang mana untuk buah nanas sebanyak 7.000 buah dengan bentuk tower setinggi 8,5 meter.
” Guna meningkatkan perekonomian masyarakat melalui komoditas nanas, even ini diharapkan bisa berlanjut kedepannya,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Batola terus mendorong, agar festival ini menjadi even karir dunia pariwisata sehingga tiap tahun akan didukung dengan anggaran yang memenuhi syarat, kata Pj Bupati Kabupaten Batola Mujiyat.
Sebagai bentuk dukungan terlebih dahulu pada tahun ini kita akan segera memperbaiki jembatan di wilayah Kecamatan Tamban, tepatnya di kilometer 6 yang mana penghubung ke wilayah Kecamatan Mekarsari.
Perbaikan jembatan tersebut agar kedepannya pengunjung atau warga yang akan ke wilayah mekarsari, tidak akan pernah mengeluh baik datang maupun waktu pulang, lanjutnya Mujiyat. ***
ahim sbn

















